LAWYER…. DIBENCI JUGA DIRINDUKAN

Tak jarang orang memandang profesi lawyer adalah profesi yang kotor. Ada pula yang dengan sinis memandang dengan mengatakan lawyer layaknya “mesin pengeruk duit”. Itu hak mereka memandang profesi ini. Tentu saja mereka punya alasan dan pengalaman sendiri hingga mereka sampai pada kesimpulan yang demikian.


Kalau gua ditanya, “sakit hati gak?”. Gak berani munafik, tentu jawaban gua, “Ya iya lah gua sakit hati.” Tapi gua harus belajar maklum, dari ribuan lawyer yang ada di republik ini, iya kali semuanya orang baik. Hanya saja gua kadang gemas sama orang yang gak punya pengalaman apa-apa dengan lawyer, namun dengan teganya menuduh yang bukan-bukan.
Jadi gua mau cerita sedikit pengalaman gua ketika suatu hari menerima konsultasi hukum dengan seorang ibu setengah baya. Kantor tempat gua bekerja memang mengkhususkan pendampingan hukum gratis bagi orang-orang miskin yang berhadapan dengan hukum, dan si ibu ini gua yakin bukan lah orang yang masuk dalam kategori calon klien kantor gua.
Meskipun demikian kantor gua tidak menutup pintu bagi orang-orang yang ingin berkonsultasi, baik kaya maupun miskin. Jadi gua tetap melayani konsultasi hukum dengan si ibu ini.
Kesan pertama, gua kurang simpatik dengan si ibu. Saat gua persilahkan duduk, dia duduk menyamping tanpa menatap ke arah gua yang sedang berbicara. Wajahnya sedikit datar, antara kurang ikhlas atau apa lah itu.
Tanpa basa basi si ibu langsung berbicara dan lagi-lagi tanpa melihat gua. Tatapannya terarah ke pintu yang setengahnya dari kaca. Dengan suara yang sedikit ditekan si ibu berkata, “Sebenarnya saya tidak percaya sama pengacara”.
Waduh… gua sedikit kaget dan rada-rada sensi. Dalam hati gua sedikit ngedumel, “lah trus ngapain lo datang ke sini?”
Namun gua mencoba untuk menahan diri dan dengan “sok” bijak gua berkata..
“Maaf ibu, kami juga pengacara, kalau ibu tidak percaya dengan kami, bagaimana kami bisa membantu permasalahan ibu.” Jawab gua dengan suara yang dibuat semanis mungkin, sambil dalam hati mengusap dada.
Akhirnya setelah ngomong begitu, si ibu sedikit menaruh perhatian. Kemudian si ibu mulai bercerita tentang masalah hukumnya dan pengalaman dia menggunakan jasa lawyer untuk mengurus perkaranya.
Dalam hal ini gua jelas tidak bisa mengomentari terlalu jauh mengenai ketidakpuasan si ibu dengan lawyernya terdahulu. Selain memang secara kode etik tidak etis juga saya tidak mengetahu fakta dan duduk persoalannya yang sebenar-benarnya.
Namun, sedikit banyak gua bisa memahami posisi si ibu. Tentu saja di akhir konsultasi, gua kembali “sok bijak” dengan memberikan pengertian kepada si ibu agar si ibu tidak memandang negatif profesi kami hanya mungkin karena ulah segelintir lawyer yang tidak profesional.
Nah… kejadian-kejadian serupa seringkali gua temuin, tentu saja rekan-rekan lawyer yang lain juga mungkin mengalami, betapa profesi lawyer ini rentan dengan pandangan miring dari orang-orang pada umumnya.
Gua juga harus belajar bahwa orang-orang butuh jasa lawyer, oleh karena itu bekerja lah dengan profesional. Karena seperti judul tulisan gua ini, profesi lawyer itu sedikit banyak “dinyinyiri” orang-orang, tapi di sisi lain juga dirindukan (dibutuhkan).

The Stress Lawyer

Penulis adalah seorang lawyer muda di Jakarta, punya cita-cita menjadi seorang akademi dan terkadang tersesat dalam imajinasi sendiri.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *