MERANGKAP SEBAGAI TEMPAT CURHAT

Mungkin yang ada di benak lo semua, kalau lawyer itu kerjaannya sidang mulu. Berdebat heboh di pengadilan atau di media massa. Tapi sebenarnya kerjaan kita gak se simpel itu. Lawyer ada beberapa jenis, dan kebanyakan lawyer mengkhususkan dirinya pada perkara-perkara tertentu. Jadi kalau lo lihat lawyer tapi gak pernah sidang, jangan tuduh dia sebagai pembohong, dia tetap lawyer, tapi mungkin saja dia lawyer coorporate.

Selain pendampingan klien, lawyer tentunya berperan sebagai konsultan hukum. Karena permasalahan hukum juga gak semuanya harus masuk ke pengadilan. Banyak orang menemui lawyer hanya sekedar untuk mendapat advice hukum atas suatu permasalahan yang dihadapinya atau yang akan dihadapinya.
Sebagai seorang konsultan hukum, lawyer harus memiliki keluwesan dalam berbicara dan mampu memberikan rasa nyaman kepada si klien saat membicarakan masalah hukumnya. Di samping itu, lawyer harus mampu memberikan advice yang berdasarkan hukum dan tidak asal-asalan.
Gue sebagai seorang lawyer di Lembaga Bantuan Hukum, dalam sehari bisa saja menerima 4-5 konsultasi dengan beranekaragam orang dan permasalahan. Bos gue selalu mengajarkan kepada kami, bahwa orang-orang yang datang ke sini adalah orang-orang yang memiliki masalah dan sebagian besar sudah putus asa, dan lo harus mampu membuat mereka merasa tenang dan tersenyum keluar dari kantor ini.
Itulah salah satu petuah si bos yang selalu gue adopsi saat berhadapan dengan klien. Tapi jujur aja, gak semua klien yang gue hadapi bisa diberi pengertian. Bahkan ada saja si klien yang merasa lebih mengerti hukum dari kita. Kadang disitu saya merasa sedih… *_*
Jadi pengalaman yang bakal gue ceritakan ini adalah terkait masalah rumah tangga. Tapi demi alasan rahasia klien dan kode etik, gue tegaskan lagi, gue gak akan nyinggung permasalahannya di dalam tulisan ini. Jadi buat lo yang kepo, udah deh, keponya buat hal lain aja.
Ibu ini sebenarnya sudah lumayan berumur, umurnya sudah memasuki usia awal 50 tahun. Pas gue ajak masuk ke ruangan khusus konsultasi, seperti biasa gue menjalankan prosedur, yaitu minta identitas untuk dicatat dan sedikit berbasa-basi.
Gue belum membuka pembicaraan apa pun, gue masih sibuk nulis identitas si ibu, tiba-tiba gue dengar suara isak tangis. Ternyata si ibu sudah mulai menangis sesenggukan. Akhirnya gue mencoba untuk menenangkan si ibu, sambil menunggu tangisnya reda.
Setelah tangisnya reda, gue mempersilahkan si ibu untuk menceritakan kasusnya. Perlahan-lahan si ibu mulai bercerita dengan sesekali mengeringkan air mata dengan tissu yang gue sodorkan. Beberapa kali saya mencoba untuk memotong pembicaraan si ibu, namun si ibu meminta agar dia menyelesaikan ceritanya terlebih dahulu.
Gue hitung-hitung, setengah jam sudah berlalu, dan gue belum diberi kesempatan untuk berbicara. Gue juga sudah mulai sedikit gelisah, karena gue juga harus berangkat ke pengadilan untuk sidang. Setelah gue tunggu beberapa lama, akhirnya si ibu mengakhiri ceritanya.
Biasanya, setelah klien selesai bercerita, gue pasti menanyakan ke si klien apa yang ingin si klien tanyakan ke kita terkait permasalahnya. Si ibu hanya menarik nafas panjang, sambil mulai berfikir.
“Jadi begini pak.” Diam sesaat. “Sebenarnya saya tidak mengerti hukum, dan saya juga gak peduli. Saya datang ke sini hanya ingin curhat saja pak. Saya tidak menginginkan pendapat dari bapak.” Tambahnya.
Gue hanya bisa bengong mendengar jawaban si ibu yang di luar ekspektasi gue. Baru kali ini gue menemukan klien yang seperti ini. Dulu bahkan ada klien yang ngotot ke gue agar advice yang gue berikan harus menguntungkan dia. Tapi si ibu ini berbeda, dia gak peduli dengan advice gue.
Setelah nyawa gue kembali dari rasa terkejut. Gue kembali menanyakan ke si ibu, kali aja dia tadi salah ngomong.
“Jadi ibu gak berniat konsultasi hukum.” Tanya gue seperti orang bego.
“Tidak pak, saya hanya butuh pendengar, dan terimakasih buat bapak sudah mendengarkan isi hati saya.” Jawabnya tanpa dosa.
Meskipun si ibu tidak meminta advice dari saya. Tapi mengingat si ibu butuh teman ngobrol, akhirnya saya sedikit memberi waktu kepada si ibu untuk kembali bercerita, yang sesekali gue selingi dengan candaan. Dan akhirnya si ibu bisa sedikit tersenyum.
Nah dari pengalaman ini, gue akhirnya banyak belajar, bahwa tak selamanya kita harus monoton dengan mengutip pasal-pasal dan ayat-ayat untuk menyelesaikan suatu perkara. Terkadang orang tidak butuh penyelesaian, yang dia butuhkan hanya untuk didengar, karena mungkin selama ini tidak ada orang yang mau mendengarkan dia.
Memang mungkin pertemuan tadi sedikit diluar dari pekerjaan gue. Tapi gue cukup senang dan puas, karena di akhir pertemuan kami, si ibu bisa sedikit tersenyum dan melupakan sejenak masalah hidupnya.
Walaupun terdengar aneh, tapi itulah kenyataannya, terkadang seorang lawyer yang baik harus bisa merangkap sebagai teman curhat yang baik pula.

The Stress Lawyer

Penulis adalah seorang lawyer muda di Jakarta, punya cita-cita menjadi seorang akademi dan terkadang tersesat dalam imajinasi sendiri.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *