HAMPIR DIKEROYOK

Waktu kuliah dulu, gue sih diajarin ama dosen-dosen gue, bahwa negara ini adalah negara hukum atau bahasa inteleknya disebut Rechtstaat, yang artinya segala sesuatu yang ada di negara ini harus berjalan sesuai dengan hukum. Tapi kenyataannya yang sering gue lihat, mungkin lo semua juga lihat, kayaknya negara ini seperti negara kekuasaan, atau bahasa dari kampung gue disebut Machstaat.

Kenapa gue bilang negara ini mirip negara kekuasaan? Mestinya lo semua udah pada tau lah, pada baca berita kan. Jadi intinya, yang gue lihat dan gue alami, sering kali kelompok-kelompok tertentu yang punya massa dan kekuasaan (walaupun gak sah), suka bertindak sesuka hati dan memaksakan kehendak. Seolah-olah kehendak mereka adalah hukum tertinggi di negeri ini.
Sayangnya lagi, para penegak hukum yang harusnya sebagai pengawal hukum dan konstitusi di negara ini, seolah-olah membiarkan dan tidak bisa bertindak tegas. Gue gak pernah tahu, apakah memang mereka adalah teman dekat atau mungkin takut. Kalo takut, percuma dong gue bayarin lo beli senjata dengan duit pajak.
Ok, gue mau nyeritain pengalaman gue sebagai seorang lawyer yang hampir jadi korban penganiayaan oleh sekelompok orang yang memaksakan kehendaknya.
Sekitar dua tahun lalu, kantor gue menangani suatu kasus yang cukup heboh. Kenapa gue bilang heboh, ya karena memang pada kenyataannya heboh banget. Sanking hebohnya, kita kalau berangkat ke pengadilan gak boleh sendirian, minimal bertiga. Soalnya di pengadilan setiap kali sidang, selalu dipenuhi massa pendukung lawan kita.
Jadi ceritanya, kantor gue memberikan bantuan hukum kepada korban tindak pidana. Keluarga si pelaku tidak terima dan menganggap ini semua adalah fitnah. Jadilah setiap kali sidang keluarga si pelaku membawa massa dalam jumlah besar ke pengadilan. Gue juga bingung, maksudnya apa coba bawa-bawa massa? Tapi bisa jadi mereka ingin memberikan tekanan kepada hakim dan jaksa agar keluarga mereka dibebaskan. Tapi gue gak mau soudzon dulu, ya udah lah suka-suka mereka aja mau bawa massa.
Jadilah setiap kali sidang digelar, pengadilan berubah seperti pasar. Para pendukung si pelaku teriak-teriak sambil membentangkan spanduk berisi dukungan. Bahkan ada juga secara terang-terangan yang melontarkan kata-kata jahat yang berisi ancaman.
Sebenarnya kita merasa terganggu dengan kondusi yang tidak kondusif begitu. Namun lagi-lagi kita mengalah dan mencoba menutup telinga dengan provokasi yang serring kali mereka lontarkan. Sayangnya pula, dari pihak pengadilan tidak ada sedikit pun upaya untuk meningkatkan pengamanan bagi keluarga korban maupun pengunjung sidang lainnya. Ironi memang.
Setelah melewati rangkaian sidang yang cukup panjang dan cukup menegangkan, maka tiba saatnya hakim harus memberikan putusan. Massa yang datang pun meningkat jumlahnya, dan wartawan juga kian tertarik untuk meliput. Benar-benar kondisi saat itu seperti sedang terjadi demo besar menolak kenaikan bbm atau pemakjulan presiden.
Begitu hakim membacakan putusan, yang intinya menyatakan si pelaku bersalah dan dipenjara sekian tahun. Massa semakin heboh. Untungnya mereka hanya keras di mulut saja, sejauh ini belum ada kekerasan fisik yang terjadi baik kepada keluarga korban maupun kepada kami para lawyer yang mendampingi korban.
Namun satu hal yang menarik, beberapa orang dari kumpulan massa berteriak ke arah kami.
“FOTO ITU WAJAH PENGACARANYA, KITA CEGAT NANTI DI JALAN…!!!”
Lagi-lagi kami masa bodoh saja, karena kejadian seperti ini bukan terjadi sekali dua kali selama gue menjadi lawyer. Kemudian terdengar lagi teriakan.
“USIR KELUARGA SI X (KORBAN) DARI LINGKUNGAN KITA…!!!”
Sebenarnya dalam hati gue dongkol banget dengan teriakan-teriakan tersebut. Jujur gue gak takut dengan ancaman mereka, cuma gue merasa bahwa negara dalam hal ini kurang memberikan perlindungan dan rasa aman bagi gue, teman-teman gue dan keluarga korban. Padahal sebagaimana gue jelasin di depan, bahwa negara ini negara hukum, tentunya negara harus melindungi warganya dari segala tindakan kekerasan dan pengancaman baik lisan maupun tertulis.
Ketika gue bertanya kepada salah satu keluarga korban, apakah mereka merasa takut dengan ancaman mereka, dia hanya bilang ke gue seperti ini,
“Kita udah melewati ini dari kemaren-kemaren, dan Alhamdulillah sejauh ini baik-baik saja. Setidaknya kami merasa tenang karena bapak dan ibu pengacara mendampingi kami terus selama persidangan.”
Jelas sebagai manusia gue yakin keluarga korban pasti ada rasa takut meskipun hanya sedikit, dan gue juga mungkin dalam hati gue yang paling dalam gue juga mungkin merasa takut juga, begitu juga dengan teman-teman gue. Tapi di sini gue belajar, bahwa gue berani memilih jalan sebagai lawyer gue juga harus berani menerima segala resikonya.
Dan satu hal yang membuat saya belajar, bahwa sebagai lawyer kita juga harus mampu memberikan rasa aman bagi klien yang kita dampingi.

The Stress Lawyer

Penulis adalah seorang lawyer muda di Jakarta, punya cita-cita menjadi seorang akademi dan terkadang tersesat dalam imajinasi sendiri.

Mungkin Anda juga menyukai

1 Respon

  1. Philipus sitepu berkata:

    bagus tulisannya, salam untuk penulis (Abang ALH). salam sayang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *