SAMPAIKAN APA HUKUMNYA

Sebagai seorang lawyer, kerjaan gue gak melulu hanya nangkring di pengadilan. Ada kalanya gue harus duduk manis di balik meja sambil mempelajari berkas atau menyusun berkas-berkas buat persidangan. Di kantor gue sendiri, setiap lawyer juga berperan ganda sebagai seorang konsultan hukum. Seperti yang udah pernah gue bahas di tulisan gue tentang “Merangkap Sebagai Tempat Curhat”.

Kalau gue sedang berada di kantor, maka gue juga harus si sedia terima konsultasi hukum. Permasalahannya juga berbeda-beda. Sebagai seorang konsultan hukum, gue hanya bisa memberikan advice yang ada dasar hukumnya, so gue gak boleh menebak-nebak atau memberikan asumsi yang gak jelas.
Mungkin sudah pernah sedikit gue singgung dalam tulisan “Merangkap Sebagai Tempat Curhat”, sering kali orang yang datang konsultasi ke kantor gue berharap agar advice yang kita berikan sesuai dengan kehendaknya. Tapi lagi-lagi, kita hanya memberikan advice sesuai hukumnya, yang terkadang tidak sesuai dengan keinginan si penanya.
Ada kalanya si penanya dapat kita beri pemahaman. Biasanya gue selalu bilang ke mereka, “Maaf pak/ibu, mungkin apa yang saya sampaikan tidak sesuai dengan keinginan bapak/ibu, tapi itu lah hukumnya.”
Namun banyak pula yang ngotot hingga konsultasi berakhir dengan kondisi yang kurang enak. Tapi gue gak bisa maksa agar dia menerima advice gue. Jika terjadi hal seperti itu, gue biasanya menyarankan agar si klien untuk mencari second opini.
Gue pernah menerima konsultasi dengan seorang ibu yang sudah cukup berumur. Dari tampilannya si ibu tampak seperti orang berada. Di awal konsultasi si ibu memberitahukan bahwa dia kenal dekat dengan bos gue, tapi seperti biasa gue gak peduli dengan orang-orang yang suka mencatut nama bos gue.
Setelah menceritakan permasalahannya, berdasarkan analisis gue dan teman gue, permasalahan hukum si ibu tidak ada dasar hukumnya. Lalu gue dan teman gue menyampaikan ke si ibu dengan bahasa yang gampang dimengerti. Namun si ibu tidak mau mengerti dan membujuk gue dan teman gue agar mencari celah terkait permasalahan hukumnya.

Saat itu yang menerima konsultasi, gue dan 2 orang teman gue yang lain. Tampaknya si ibu sudah putusan untuk membujuk gue dan teman gue, sebut saja X. Akhirnya si ibu berpaling ke teman gue yang satu lagi, sebut saja Y.

“Coba deh kami yang jawab, mungkin jawaban mu lebih enak didengar.”

“Jawaban saya sama dengan teman-teman saya bu.” Jawab si Y.

Si ibu tampak kesal dan menggerutu. Sambil memandang sebal ke arah kami. Hingga di akhir konsultasi, si ibu ngotot agar advice yang kita berikan sesuai dengan keinginannya.
Hal-hal serupa gak cuma gue yang ngalamin. Bahkan pengalaman teman gue lebih ekstrim lagi. Ada yang pergi begitu saja sambil banting pintu. Namun paling parah ada seorang bapak sampai marah-marah ke teman gue, bilang teman gue bukan lawyer asli.
“UDAH GAK USAH DIDENGARIN, DIA ITU PENGACARA GILA. IJAZAH NYA PALSU, KITA CARI PENGACARA YANG LEBIH HEBAT LAGI.”
Si bapak mengajak putri nya pergi, sambil teriak-teriak. Kawan gue yang kebetulan perempuan, hanya bisa bengong dan sedikit gemetar menahan dongkol.
Terkadang di situ gue harus bisa memahami bahwa semua yang datang konsultasi ke gue gak semuanya punya intelektual yang bisa paham. Terkadang banyak dari mereka datang ke gue bukan karena ingin mencari penyelesaian atau penjelasan, tapi kecenderungan ingin mencari pembenaran walau pun mungkin mereka sadar bahwa posisi mereka tidak benar.
Sebagai seorang lawyer gue harus belajar untuk memiliki kesabaran ekstra. Namun gue juga harus konsisten dalam memberikan jawaban atas permasalahan yang dihadapi oleh klien gue. Dan satu hal yang harus gue tanamkan dalam hati gue, “Pahit pun itu kebenaran/kejujuran, gue harus tetap mengatakannya”.

The Stress Lawyer

Penulis adalah seorang lawyer muda di Jakarta, punya cita-cita menjadi seorang akademi dan terkadang tersesat dalam imajinasi sendiri.

Mungkin Anda juga menyukai

3 Respon

  1. patria dilaga berkata:

    Congrats bang. Sukses dlm perjalanan abang..

  2. Sukses buat mu juga Pat..

  1. April 16, 2016

    […] melakukan pembelaan yang membabi buta, semua gue lakukan sesuai dengan porsinya dan hukumnya (Baca: SAMPAIKAN APA HUKUMNYA). Walaupun kitab suci mengatakan, “Berbahagia lah mereka yang miskin, karena mereka lah yang […]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *