PERADI YANG MANA LO BRO…?

Sebagai seorang lawyer atau advokat yang terdaftar di bawah bendera Perhimpunan Advokat Indonesia (PERADI), gue cukup prihatin atas kondisi organisasi advokat Indonesia ini. Masalahnya, pasca Munas Peradi ke-2 di Makassar pada maret 2015 silam, kini Peradi statusnya makin tidak jelas.
Kenapa gue bilang begitu, soalnya setahu gue, dulu Peradi hanya ada satu, yang berkantor di wisma Soho Slipi, namun sekarang ada tiga kubu yang mengaku sebagai Peradi yang sah. Kubu Pertama, yaitu Kubu Faudzi Hasibuan-Thomas Tampubolon. Kubu yang kedua, yaitu Kubu Juniver Girsang-Harry Pontoh. Kubu yang Ketika, yaitu Kubu yang menamakan dirinya Care Taker, yaitu Luhut M.P. Pangaribuan-Humprey Djemat.
Menariknya lagi, sekaligus membingungkan dan cukup menyebalkan juga, pada bulan Juli yang lalu, ketiga kubu ini membuka pendataan ulang seluruh advokat di Indonesia. Tentu saja, sebagai advokat yang tidak pro pada ketiga kubu tersebut, gue dan kawan-kawan gue yang lain menjadi kebingungan, kubu yang mana yang harus gue ikuti.
Kadang gue bingung, sebenarnya apa yang dicari oleh senior-senior gue yang masih sibuk bagi-bagi “kue” yang bernama Peradi itu? Padahal jika dipikir-pikir, imbas dari kericuhan yang terjadi di tubuh Peradi itu sendiri sangat merugikan bagi Advokat muda seperti gue dan para Calon Advokat yang nasibnya semakin tidak jelas. Dan kejadian seperti ini bukan hal baru sebenarnya terjadi di tubuh organisasi advokat. Beberapa tahun silam, sekitar tahun 2010 an, terjadi kisruh antara Peradi dan Kongres Advokat Indonesia (KAI), yang berimbas tertundanya pelantikan dan pengangkatan sumpah bagi ribuan calon advokat di seluruh Indonesia.
Melihat kondisi yang demikian, tidak jarang para advokat muda saat bertemu dengan rekannya di pengadilan, akan melontarkan celetukan antar sesama lawyer, “Peradi yang mana lo bro..?”
Tentu saja, celetukan tersebut bentuk tidak resmi ungkapan protes para advokat yang mengambil posisi netral, yaitu tidak memihak pada satu kubu. Memang harus gue aku, dalam kondisi seperti ini, diam dan menunggu sesaat adalah cara yang paling aman. Bukan karena gue gak mau tahu, hanya saja gue tidak mau salah memilih yang pada akhirnya akan mempengaruhi perjalanan karir gue ke depan.
Bagi advokat-advokat senior yang kisruh di atas, gampang saja bagi mereka. Dengan nama besar dan pengalamannya, orang tidak lagi mempertanyakan tentang eksistensinya. Nah kalau gue dan teman-teman gue yang baru seumur jagung menjadi advokat, jalan kita masih panjang.
Gue hanya berharap, agar senior-senior di atas, ada yang legowo untuk mengalah dan membuka pintu rekonsiliasi, entah kubu yang mana pun itu.

The Stress Lawyer

Penulis adalah seorang lawyer muda di Jakarta, punya cita-cita menjadi seorang akademi dan terkadang tersesat dalam imajinasi sendiri.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *