HAK ANAK ADOPSI UNTUK MENGETAHUI ASAL-USULNYA


Setiap anak pada dasar memiliki hak dan kewajiban sebagai seorang anak dalam keluarga, tetapi kenyataannya pemenuhan hak-hak anak seringkali diabaikan, karena kondisi keluarga yang tidak memungkinkan. Keadaan ini sering sekali menjadikan anak itu hidup di bawah garis kemiskinan karena kehidupan orang tuanya, namun ada juga menjadi anak terlantar. Namun, di samping itu, ada beberapa orang yang karena keadaannya tidak dapat memiliki anak, sehingga harus mengangkat atau mengadopsi anak.
Adopsi merupakan suatu tindakan mengambil anak orang lain untuk dipelihara dan diperlakukan sebagai anak turunannya sendiri, berdasarkan ketentuan-ketentuan yang disepakati dan sah menurut hukum yang berlaku di masyarakat. Melalui adopsi seseorang mendapatkan ahli waris atau untuk mendapatkan keturunan bagi mereka yang tidak memiliki keturunan. Adapun akibat dari adopsi, si anak akan memiliki hak dan kewajiban sebagai seorang anak.
Menurut Pasal 12 Undang-undang Kesejahteraan Anak, motif pengangkatan anak adalah, sebagai berikut:
(1)   Pengangkatan anak yang menurut hukum adat dan kebiasaan dengan mengutamakan kepentingan kesejahteraan anak.
(2)   Kepentingan kesejahteraan anak yang termaksud dalam ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah.
(3)   Pengangkatan anak untuk kepentingan kesejahteraan anak yang dilakukan di luar adat dan kebiasaan, dilaksanakan peraturan perundang-undangan.
Pihak-pihak yang terlibat dalam hal terjadinya pengangkatan anak adalah sebagai berikut:
a.       Pihak orang tua kandung, yang menyediakan anaknya untuk diangkat.
b.      Pihak orang tua baru, yang mengangkat anak.
c.       Hakim atau petugas lain yang berwenang mengesahkan pengangkatan anak.
d.       Pihak perantara, yang dapat secara individual atau kelompok.
e.    Pembuatan undang-undang yang merumuskan ketentuan pengangkatan anak dalam peraturuan  perundang-undangan.
f.       Anggota keluarga masyarakat lain, yang mendukung atau menghambat pengangkatan anak.
g.      Anak yang diangkat, yang tidak dapat mengindarkan diri dari perlakuan yang menguntungkan atau merugikan.
 Adapun kriteria seorang anak yang dapat diangkat adalah sebagai berikut:
a.       Diutamakan pengangkatan anak yatim piatu.
b.      Anak yang cacat mental, fisik, sosial.
c.       Orang tua anak tersebut memang sudah benar-benar tidak mampu mengelola keluarganya.
d.      Bersedia memupuk dan memelihara ikatan keluarga antara anak dan orang tua kandung sepanjang hayat.
Berdasarkan ketentuan hukum, mengenai hal-hal yang berkaitan dengan pengangkatan anak, maka orang tua angkat mempunyai kewajiban seperti yang telah diatur dalam Pasal 40 Undang-undang Perlindungan Anak, yang menyebutkan:
(1)   Orang tua angkat wajib memberitahukan kepada anak angkatnya mengenai asal usul dan orang tua kandungnya.
(2)   Pemberitahuan asal usul dan orang tua kandungnya sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan dengan memperhatikan kesiapan anak yang bersangkutan.
Pemberitahuan asal usul dan orang tua kandung ini bertujuan agar anak yang telah diangkat tidak merasa kehilangan jati diri yang sebenarnya dan mengetahui asal usulnya yang sebenar-benarnya. Namun ada kalanya, orang tua tidak mau memberitahukan asal-usul anak adopsi tentang orang tua mereka. Banyak pertimbangan yang dijadikan alasan untuk tidak memberitahu asal usul orang tua si anak. Tetapi mengetahui asal-usul orang tua kandung adalah hak seorang anak. Sehingga sebagaimana yang termuat dalam undang-undang, bahwa orang tua angkat berkewajiban untuk memberitahukan asal-usul dan orang tua anak adopsinya.

The Stress Lawyer

Penulis adalah seorang lawyer muda di Jakarta, punya cita-cita menjadi seorang akademi dan terkadang tersesat dalam imajinasi sendiri.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *