KASIH IBU SEPANJANG JALAN


Sebagai seorang lawyer, kebanyakan yang gue tangani adalah orang-orang bermasalah. Tapi tak, tak jarang pula, yang gue tangani adalah orang yang bermasalah namun tidak bersalah. Ngerti gak maksud gue? Jadi contohnya gini, si X dituduh melakukan suatu tindak pidana, padahal sebenarnya dia tidak melakukan apa pun yang melanggar hukum, namun karena di fitnah, mau tidak mau si X harus berhadapan dengan hukum.
Nah… sekitar tahun 2012 an, ada satu perkara yang cukup menyita perhatian publik. Kantor gue menangani dan mendampingi seorang klien yang dituduh turut serta melakukan suatu tindak pidana. Hingga akhirnya si orang ini, ditahan dan dipaksa untuk mengakui perbuatan yang tidak pernah dilakukannya.
Gue salut sama ini orang, kenapa? Menurut pengakuan dia, sering kali dia dipaksa dan dianiaya agar bersedia mengakui tindak pidana tersebut, namun meskipun dianiaya, dia tetap berani untuk mengatakan TIDAK. Padahal banyak orang yang pernah gue temuin, baru dibentak sekali, sudah ketakutan dan terpaksa mengakui segala tuduhan yang ditujukan kepadanya. Nah si kawan ini termasuk berani menurut gue.
Proses yang panjang dalam penyelesaian perkara ini telah di lalui, hingga pada akhirnya klien ini dituntut pidana penjara seumur hidup. Tentu saja, sebagai orang yang tahu faktanya, kita cukup kesal dan kecewa dengan jaksa yang saat itu seolah-olah mempermainkan hidup si klien ini. Namun kita berusaha untuk memberikan pembelaan semaksimal mungkin, untuk membantah segala tuduhan yang ditujukan kepada si klien.
Majelis hakim ternyata bisa menerima segala bukti, alasan dan dalil yang kita sampaikan, dan si klien dibebaskan dari segala tuntutan pidana. Hingga pada hari itu juga, kita berusaha untuk segera mengeluarkan dia dari ruang tahanan. Sebab dia sudah mendekam di ruang tahanan selama kurang lebih 8 bulan atas perbuatan yang sama sekali tidak pernah dilakukannya.
Gue salah satu yang ikut serta mendampingi proses pengeluaran si klien. Tepat jam 11 malam, si klien keluar dari pintu besi ruang tahanan. Tim gue dan orang tua si klien telah menunggu di depan pintu. Begitu dia keluar, si klien serta merta menangis dan bersujud di tanah. Dia menangis terharu merayakan kebebasannya.
Setelah itu, kami mengajak mereka untuk mampir ke kantor kami, untuk makan malam. Karena sejak siang tadi kami semua belum makan, demi mengawal proses pengeluaran si klien. Satu pemandangan yang membuat gue sangat tercekat ketika melihat ibu si klien. Waktu itu kita menyediakan makanan fastfood dari KFC untuk makan malam.
 Si ibu dengan perlahan memakan nasi dengan kulit ayamnya. Gue akui, kulit ayam KFC memang tidak ada duanya. Tapi gue salah, awalnya gue mengira si ibu sengaja makan kulitnya terlebih dahulu. Begitu selesai makan, si ibu menyimpan potongan ayam tanpa kulit itu dan memasukkan ke dalam tas. Gue tiba-tiba bertanya, “kok tidak dihabiskan bu?”
“Eh iya mas, buat anak saya di rumah.” Katanya sambil tersipu. 
Gue hanya diam seribu bahasa. Mungkin bagi kita, satu paket ayam KFC bukan lah hal yang begitu wah, namun mungkin bagi si ibu, makanan tersebut tergolong sangat mewah. Dan satu lagi, dalam kondisi yang seperti ini, si ibu masih tetap memikirkan anaknya yang lain.
Akhirnya melihat kejadian itu, teman gue mengambil beberapa kotak lagi dan memberikannya kepada si ibu. Toh juga kami tidak bisa menghabiskan makanan itu semua.
Kejadian yang mengharu biru seperti itu bukan satu-satunya yang gue temuin selama gue bekerja sebagai seorang lawyer. Dalam tulisan gue yang sebelumnya, gue juga pernah menyinggung tentang seorang ibu dari klien gue yang memberi dari kekurangannya (yang belum baca klik di sini).
Si ibu ini datang mendampingi anaknya ke pengadilan, dan ketika melihat anaknya tidak memakai alas kaki, si ibu lantas melepaskan sandal jepitnya dan memberikan kepada anaknya. Gue kaget, karena si ibu tidak membawa sandal yang lain.
Akhirnya gue melihat ibu setengah baya itu pulang dari Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, berjalan kaki tanpa alas kaki, menuju rumahnya di daerah Lenteng Agung. Si ibu rela berjalan tanpa kali demi anaknya.
Dan masih banyak perkara lain yang cukup mengharukan, bagaimana para orang tua, khususnya ibu senantiasa mendampingi dan menyayangi anak-anaknya, sekalipun mungkin si anak tersebut telah melakukan kesalahan.
Gue sebagai seorang lawyer, mungkin belum kaya raya dan se-sukses lawyer-lawyer yang lain, namun setidaknya gue kaya akan pengalaman seperti ini. Dan gue percaya, bahwa hidup gue sudah berjalan sejauh ini, dan tentu akan terus maju dan maju lagi, semuanya tidak terlepas dari kasih sayang dan doa orang tua gue.
Dalam banyak hal mungkin gue masih sering mengeluh, namun dalam banyak hal pula gue selalu merasakan kebaikan. Dan gue yakin bahwa doa-doa dari orang tua gue sejauh ini selalu Tuhan dengar.

The Stress Lawyer

Penulis adalah seorang lawyer muda di Jakarta, punya cita-cita menjadi seorang akademi dan terkadang tersesat dalam imajinasi sendiri.

Mungkin Anda juga menyukai

1 Respon

  1. April 2, 2016

    […] tulisan yang sebelumnya (Silahkan baca: KASIH IBU SEPANJANG JALAN), gue pernah bercerita bahwa salah seorang klien kami menjadi korban salah tangkap. Sebenarnya […]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *