MEMBACA SEBELUM BERKOMENTAR


Sebagai seorang lawyer, gue bekerja untuk mendampingi kepentingan hukum klien gue. Ingat kepentingan hukum, bukan perbuatan yang dilakukan oleh klien. Ketika seseorang datang untuk menjadi klien, tentunya hal pertama yang gue lakukan adalah bertanya tentang duduk perkaranya, kemudian setelah itu mempelajari berkas-berkasnya.
Dalam mempelajari berkas, seorang lawyer dituntut untuk teliti dan hati-hati. Pokoknya baca, baca dan baca lagi. Karena apa, seorang lawyer harus membandingkan apa yang diceritakan oleh si klien dan apa yang ada di berkas. Jangan sampai lo dibohongi oleh si klien.
Sebagai contoh, dalam kasus pidana, si klien mengatakan bahwa dia tidak tahu menahu tentang suatu kejadian, ternyata dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP) si klien mengaku mengetahui persis kejadian tersebut, maka di sini si lawyer harus mengkonfirmasi hal tersebut. Contoh tadi baru sebagian kecil dari pekerjaan si lawyer.
Seorang lawyer harus rajin membaca, itu pasti. Tidak hanya buku pelajaran atau buku-buku hukum, tapi harus sabar membaca berkas-berkas perkara yang terkadang bukan hanya puluhan lembar, namun bisa sampai ratusan bahkan ada yang ribuan. Dan itu harus dibaca secara tuntas dan berulang-ulang, karena suatu perkara akan terang jika kita mengerti berkas.
Kemudian setelah mendengar keterangan si klien, membandingkan dengan berkas-berkas, maka si lawyer juga harus mencari dasar hukum dan aturan-aturan hukum terkait. Dan pekerjaan bukan lah hal yang gampang, karena si lawyer harus jeli. Lo harus sadar, bahwa di negeri ini aturan perundang-undangan bisa saling tumpang tindih, belum lagi kalau aturan itu sudah tidak berlaku atau diubah. Kan tidak lucu, jika seorang lawyer memakai aturan hukum yang sudah diubah atau dicabut.
Setelah semua pekerjaan yang sangat melelahkan itu, maka si lawyer bisa sambil mencari bukti-bukti dapat berupa surat, saksi dan bukti-bukti lainnya. Jika berupa surat, lagi-lagi si lawyer harus membacanya, untuk apa? Agar si lawyer tahu apa isi buktinya, dan tidak asal mengajukan. Bagaimana jika ternyata bukti surat tersebut tidak relevan untuk dihadirkan dalam persidangan? Selain buang-buang waktu, tentu saja akan menurunkan harga diri si lawyer di depan hakim, lawan dan terutama di depan klien nya.
Di sini gue selalu menekankan untuk membaca dan terus membaca. Gue gerah mendengar dan melihat orang yang selalu mengatakan kalau lawyer berbicara selalu tidak berdasar, padahal dia tidak pernah mengetahui bagaimana proses yang dialui si lawyer. Dia hanya membaca dari opini orang yang belum tentu terbukti kesahiannya.
Di samping itu pula, di media sosial gue banyak melakukan unfriend, unshared, unfollow bahkan block, orang-orang yang menurut gue keseringan posting berita hoax yang lebih tepat dibilang sampah. Salah satu contoh, teman facebook gue pernah men-share sebuah link berita dari situs online yang gue gak pernah tau dan gak pernah gue kunjungi. Judulnya cukup provokatif, dan menurut gue cukup bisa menyulut pertumpahan darah, belum lagi si teman gue ini memberikan komentar singkat terkait berita tersebut. 
Bercampur rasa dongkol dan terprovokasi, gue coba masuk ke link berita tersebut, dan ternyata isi dari berita tersebut tidak seheboh judulnya, dan bahkan antara judul dan isi malah bertolak belakang. Padahal kawan gue sudah terlanjur “berbesar mulut” dengan memberikan tanggapan yang provokatif pula. Gue berkesimpulan si kawan gue ini sepertinya belum membaca beritanya secara utuh, yang dia baca hanyalah judulnya.
Dari pengalaman-pengalaman seperti ini gue hanya pengen memberitahukan kepada lo semua bahwa jadilah pembaca yang intelek, jangan malas, jangan hanya karena judulnya wah lantas langsung sebar sana sini, padahal isinya mungkin tidak relevan atau mungkin berisi fitnah yang belum tentu kebenarannya.
Karena di zaman sekarang, apa yang lo posting di media sosial lo bisa menunjukkan siapa lo yang sebenarnya. Bukan tingkat pendidikan lo yang gue maksud, tapi tingkat intelektual lo. Bisa saja orang berpendidikan tinggi dan bekerja sebagai dosen atau pengajar namun dalam berkomentar tidak menunjukkan tingkat intelektual yang mumpuni.
Jadi mulai sekarang, dalam membaca suatu berita atau tulisan, bacalah secara utuh, jika tampak janggal, ada baiknya dikonfrontir dengan tulisan yang lain yang tema nya sama. Stop mempermalukan diri sendiri dengan memposting berita HOAX.

The Stress Lawyer

Penulis adalah seorang lawyer muda di Jakarta, punya cita-cita menjadi seorang akademi dan terkadang tersesat dalam imajinasi sendiri.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *