TAAT HUKUM DIMULAI SEJAK DARI DIRI SENDIRI

Sering kali gue melihat di masyarakat banyak orang sudah jelas-jelas melanggar hukum tapi masih bersikap seolah-olah tidak bersalah. Dan gawat nya lagi ketika diberi tindakan dia malah lebih galak dari petugas, setelah itu merasa dirinya dizolimi, dikriminalisasi atau malah melimpahkan kesalahan kepada orang lain.
Belum lagi banyak orang yang sok-sok menghakimi orang lain, padahal dirinya sendiri hampir tiap hari melanggar hukum. Contohnya menyindir polisi yang menerima suap, sementara dia bawa kendaraan gak punya SIM dan ketika ditilang malah mencoba membayar petugas. Padahal pemberi dan penerima suap sama-sama bersalah.
Sedihnya lagi, gue punya teman yang hingga saat ini belum lulus kuliah sudah 8 tahun. Menulis di media sosial menagih janji pemerintah, padahal janjinya kepada orang tua untuk lulus kuliah dan meraih gelar sarjana, tidak bisa dia tepati.
Gue dalam menerima konsultasi dengan calon klien, sering menemukan kasus-kasus seperti ini. Misalnya, pernah suatu ketika orang tua seorang terdakwa kasus tindak pidana penggelapan datang untuk meminta pendampingan hukum. Anak si bapak ini didakwa menggelapkan uang perusahaan sekian puluh juga. Lalu gue tanya si bapak, apakah anaknya memang benar melakukan perbuatan itu. Si bapak malah dengan emosi berkata ke gue,
“ITU POLISI KURANG AJAR, GAK BENAR. ANAK SAYA CUMA AMBIL UANG SEGITU UDAH LANGSUNG DITAHAN. KALO MEMANG MEREKA BENAR, TANGKAPIN TUH KORUPTOR-KORUPTOR YANG KORUPSI MILIARAN RUPIAH.”
Gue jadi bingung, kenapa jadi sampai ke perkara korupsi. Saat itu juga gue tegaskan ke si bapak, bahwa masalah salah benar itu bukan masalah nilai perkaranya, tapi karena memang perbuatan itu tidak boleh dilakukan. Masalah ada orang yang tidak ditangkap, lalu kita ditangkap, menurut gue itu bukan alasan pembenar atau pemaaf.
Si bapak ini bukan lah orang pertama dan satu-satunya yang bersikap seperti itu. Bahkan gue mengakui bahwa gue pernah melimpahkan kesalahan kepada orang lain. Tapi akhirnya gue sadar, dan gue juga teringat kata-kata penulis pavorit gue, Pramoedya Ananta Toer, dia berkata:
“Seorang terpelajar sudah harus adil sejak dari dalam pikiran, kemudian adil dalam perbuatan.”
Gue sepakat betul dengan kata-kata ini. Bagaimana kita bisa mengatakan keadilan dan kebenaran terhadap orang lain, padahal sikap dan perbuatan kita tidak mencerminkan apa yang kita katakan.
Gue bukannya melarang jika ada orang-orang yang memberikan kritik kepada pemerintah atau siapapun, namun gue menyarankan agar kita instrospeksi diri kita sendiri. Seperti yang gue sampaikan di atas, bagaimana kita menagih pemerintah jika kita pun tak bisa memenuhi janji kita.
Gue pun selalu belajar untuk menahan diri untuk mengkritik teman atau pemerintaj, karena gue berkaca pada diri gue yang menurut gue belum pantas untuk mengkritik. Gue percaya, memperbaiki kondisi hukum di negeri ini tidak hanya dengan demo atau kritik sana sini. Tapi mulai lah taat hukum sejak dari diri dan keluarga.
Gue keingat ketika orang tua gue membeli sebidang tanah dan rumah di atas nya. Dan ternyata tanah tersebut belum disetifikatkan. Gue yang mengerti hukum dan tau resiko nya langsung meminta kepada orang tua gue untuk segera mensertifikatkan tanah tersebut. Awalnya bapak saya menolak dengan alasan, tanah tersebut udah dibeli dengan perjanjian jual beli dan tanah-tanah di sekitarnya juga tidak disertifikatkan.
Setelah berdebat gue akhirnya menegaskan kepada orang tua gue. Dan gue bilang ke bapak gue.
“Bapak udah sekolah kan aku menjadi sarjana hukum, dan aku tau bahwa secara hukun seseorang dikatakan sebagai pemilik tanah jika dia memiliki sertifikat tanah dari BPN. Jika suatu saat nanti tanah yang bapak beli itu bermasalah, jangan bilang kalau aku tidak pernah memberitahu kalian, dan jangan libatkan aku juga dalam masalah itu.”
Akhirnya beberapa bulan kemudian, bapak gue mengabarkan telah mensertifikatkan tanah tersebut menjadi hak milik melalui Program Sertifikasi Nasional.
Mungkin orang-orang menganggap gue sok tau dan gak sopan kepada orang tua. Bahkan saudara gue juga menganggap demikian. Tapi gue mau mencoba memberi pengertian kepada keluarga gue bahwa tidak ada toleransi bagi pelanggaran hukum.
Mungkin hukum di negeri ini sedang carut marut, sehingga jangan menambahi carut marutnya dengan ikut melanggar hukum. Jika setiap orang saja memiliki kesadaran, maka hukum bisa ditegakkan. Jika tidak bisa memperbaiki, setidaknya jangan ikut merusak.

The Stress Lawyer

Penulis adalah seorang lawyer muda di Jakarta, punya cita-cita menjadi seorang akademi dan terkadang tersesat dalam imajinasi sendiri.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *