KLIEN YANG SOK TAHU

Seseorang menggunakan jasa seorang lawyer tentu saja dengan alasan yang berbeda-beda. Bisa diantaranya karena tidak punya waktu untuk mondar-mandir mengurus perkaranya, namun kebanyakan menggunakan jasa lawyer karena menurut mereka, mereka adalah orang awam yang tidak mengerti hukum.
Dari sekian banyak yang pernah gue temuin hampir 90% mengaku tidak mengerti hukum dan butuh pendampingan hukum dari seorang lawyer (yang mengerti hukum) agar tidak kerepotan dan dipermainkan orang (lawan). Gue maklum, karena kebanyakan yang datang adalah orang biasa yang tidak memiliki latar belakang pendidikan hukum. Walaupun beberapa ada juga yang sarjana hukum, namun mereka tetap mengaku tidak mengerti hukum (dilema…).
Ok, kembali lagi kepada klien-klien yang mengaku awam dan tidak mengerti hukum. Biasanya, gue pribadi, sebelum melakukan langkah hukum yang harus gue tempuh untuk menangani perkara mereka, gue terlebih dahulu memberikan “pengetahuan” singkat mengenai dasar hukum dan segala upaya hukum yang nantinya akan ditempuh.
Biasanya mereka akan mengangguk mengerti atau banyak juga diantara mereka yang mengatakan, “Terserah bapak saja deh, kan bapak yang lebih mengerti.”
Meskipun mereka telah berpasrah diri, gue tetap tidak pernah mengambil keputusan sendiri. Karena pada prinsipnya lawyer bukanlah pembuat keputusan dalam sebuah perkara. Segala sesuatunya harus dikembalikan kepada si klien. Dalam kasus pesangon misalnya, ketika perusahaan memberikan penawaran, gue pasti akan kembalikan kepada si klien, apakah akan menerima penawaran dari si perusahaan atau tidak.
Nah meskipun demikian, terkadang gue juga harus memberikan pengertian kepada klien mengenai kedudukan hukumnya.Klien yang baik biasanya akan dapat kita berikan pengertian, namun tak semua klien itu orang yang manut, terkadang kita bertemu dengan klien yang keras kepalanya over dosis banget.
Sanking over dosisnya, terkadang si klien hendak mengajari si lawyer untuk melakukan apa yang harus dilakukan, seolah-olah dia mengerti segala sesuatunya. Klien yang seperti ini jelas-jelas sangat menyebalkan, dan gue sendiri akan bertindak tegas kepada si klien.
Gue juga punya pengalaman dengan beberapa klien yang mencoba untuk mengajari atau mengatur gue, bahkan lebih parahnya lagi, mencoba membanding-bandingkan gue dengan orang lain yang gak gue kenal. Bayangkan betapa menyebalkannya…
Tak jarang si klien berkata seperti ini, “Menurut saudara saya, hal seperti ini mah gampang, gak perlu susah-susah…”
Atau, “Teman saya pernah punya perkara sama seperti ini, tapi selesai dalam 1 bulan..”
Terkadang jika jiwa gue sedang adem ayem, gue hanya dengan sabar memberi pengertian kepada si klien, tapi jika batas kesabaran gue sedang menipis, gue tak jarang bertindak tegas.
Bukankah mereka selalu bilang jika mereka adalah orang awam hukum dan tidak mengerti, trus mengapa berusaha untuk mengajari si lawyer melakukan apa yang harus dilakukannya.? Jika mereka memang lebih mengerti, buat apa menggunakan jasa lawyer? Terkadang pertanyaan-pertanyaan tersebut yang sering muncul di benar gue.
Di sinilah ketegasan seorang lawyer dalam menghadapi kliennya. Karena terkadang, hal menyebalkan itu tak selalu datang dari pihak lawan, tapi dari pihak kita juga (klien). Gue selalu memegang teguh nasehat dari pimpinan gue di kantor, yang dengan tegas mengatakan, “KITA INI LAWYER, JANGAN PERNAH DIATUR OLEH KLIEN.”

The Stress Lawyer

Penulis adalah seorang lawyer muda di Jakarta, punya cita-cita menjadi seorang akademi dan terkadang tersesat dalam imajinasi sendiri.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *