ABANG TELAH PULANG KE SURGA

Orang akan langsung mengenal beliau, saat melihat rambut putih dan wajahnya yang sudah semakin sepuh. Ya dia lah Adnan Buyung Nasution. Ada yang menyebutnya “Si Jambul Putih” dan ada juga yang memanggilnya “Bapak Advokat Indonesia” tapi dia lebih senang dipanggil “Abang”. Dan aku sendiri lebih senang menyebutnya sebagai “Guru dari Guru ku”.

Perjumpaan pertama ku dengan beliau adalah pada tahun pertama ku bekerja di Lembaga Bantuan Hukum Mawar Saron. Sekitar April 2013, kala itu aku diminta oleh kantor untuk mewawancara beliau guna pembuatan video profil LBH Mawar Saron. Ini adalah permintaan khusus dari pembina kami bapak Hotma Sitompoel, yang aku tahu sebagai anak didik pak Buyung di LBH Jakarta dimasa pak Hotma Sitompoel baru meniti karier sebagai seorang advokat.
Hari itu jumat namun aku sudah lupa tanggalnya. Saya membuat janji dengan Mbak Rika sekretaris beliau. Akhirnya kami disuruh datang ke kantornya di bilangan TB Simatupang sehabis sholat Jumat. Namun di tengah perjalanan, aku mendapat telepon dari Mbak Rika untuk mengundur pertemuan ke jam 3 sore karena pak Buyung harus ke dokter. Di situ aku mengetahui bahwa beliau mulai sakit-sakitan.
Setengah tiga kami tiba di kantornya, dan menunggu barang sejenak karena beliau masih diperjalanan dari dokter menuju kantor. Sepenglihatan ku terdapat kesamaan selera antara pak Buyung dengan pak Hotma mengenai design kantor, keduanya tampak sebagai pecinta benda-benda seni bernilai tinggi.
Setengah jam menunggu akhirnya beliau tiba dan menyalami kami. Beliaupun mengajak kami ke ruang kerja pribadinya. Namun sebelumnya dia minta maaf karena harus mengundur jadwal pertemuan. Aku semakin respek dengan kerendahan hati beliau. Dia tak segan-segan meminta maaf kepada kami, padahal saat itu saya masih berstatus advokat magang (calon advokat).
Sebagai advokat senior, aku yakin bahwa setiap jam waktunya bernilai jutaan rupiah. Sehingga kami meminta untuk segera melakukan wawancara karena takut mengganggu waktu nya. Tapi beliau dengan santai berkata, “kita ngobrol-ngobrol dulu lah sebelum wawancara.”
Menurut ku beliau adalah orang yang gemar mengobrol tanpa mempersoalkam siapa lawan bicaranya. Saat itu dia banyak bercerita tentang sejarah hidupnya dan yang paling penting dia memberikan sejumlah nasehat serta petuah bagi kami, para advokat-advokat muda.
Sepanjang pertemuan beliau meminta kami untuk memanggilnya dengan sebutan “Abang”. Namun kami segan, mengingat beliau adalah guru dari guru kami (bapak Hotma Sitompoel).
Pak Buyung dulunya adalah salah satu penasihat dari SBY, dan saat itu aku merasa bangga bisa mendapatkan nasihat dari orang yang pernah memberi nasehat kepada Presiden.
Nasihat yang paling berkesan dan saya ingat dari beliau adalah, “Jadilah advokat yang punya hati dan jiwa nasionalisme. Serta buat negara ini bangga karena diri mu.”
Beliau juga menceritakan mengenai riwayat penyakitnya. Sejak tahun 80 an beliau telah 2 kali memasang ring di jantungnya dan tahun 2014 akan memasang ring yang ke 3. Dia berpesan pula agar kami menjaga kesehatan.
Setelah obrolan yang panjang dan wawancara, kami pamit pulang. Sebelum pulang beliau berpesan, “Abang sudah tua, mungkin sudah susah mengingat, tapi kalau kalian bertemu dengan saya, tolong sapa saya dan ingatkan saya.”
Dua minggu kemudian, aku berkesempatan untuk bertemu dengan beliau dalam sebuah seminar. Saat itu beliau sebagai pembicara. Di akhir acara aku teringat pesan beliau dan mendatangi beliau yang sedang dikelilingi oleh orang yang hendak berfoto dengannya. Ketika aku sapa, beliau langsung berkata, “Oh kamu anak buah nya Hotma.”
Aku cukup terkejut ternyata beliau masih ingat. “Iya pak, saya yang kemaren mampir ke kantor bapak?”
“Nanti kalau video nya sudah jadi, abang minta copian nya ya.”
Orang-orang memandang ku, seolah heran sedang berbicara akrab dengan seorang Adnan Buyung Nasution.
Sekitar bulan agustus di tahun yang sama, beliau menyempatkan diri berkunjung ke kantor LBH Mawar Saron. Pak Hotma Sitompoel mengajak beliau berkeliling seluruh gedung dan berkenalan dengan semua lawyer. Aku saat itu sedang asik mengerjakan sesuatu tak mengetahui mereka datang.
Aku hanya terkejut saat pak Hotma mengetuk pintu ruang kerja ku dan mengajak pak Buyung masuk ke dalam. Beliau memandang ke seluruh sudut ruangan ku yang hanya berukuran 3×3 meter dan melihat koleksi buku ku di lemari.
“Abang ingat kamu, kamu yang dulu bertemu dengan abang kan?” Lagi-lagi dia mengingat aku. “Iya pak.” Jawab ku.
Setelah itu aku tak lagi bertemu beliau. Hingga sekitar dua minggu lalu pak Hotma bercerita bahwa pak Buyung sedang sakit dan harus cuci darah. Kemudian pada hari sabtu tanggal 19 september 2015, aku mendapat kiriman foto beliau yang sedang terbaring sakit di RS Pondok Indah.
Entah bagaimana, hari senin tanggal 21 september 2015, aku bermimpi, beliau kembali datang ke kantor kami dan berdiri di depan ruang kerja ku namun tidak masuk. Dia tersenyum ke arah ku namun tak mengatakan sepatah kata pun. Dalam mimpi tersebut untuk pertama kali aku memanggilnya “Abang”.
Siang hari rabu 23 september 2015, aku mendapat kabar bahwa pak Buyung telah pulang ke surga pada pukul 10.17 WIB di usianya yang ke 81 tahun.
Aku tahu bahwa aku bukan lah kerabat dekatnya dan bukan pula kenalan baiknya, namun aku tetap merasa kehilangan. Tapi aku yakin pak Buyung bagai daun tua yang gugur namun pada akhirnya akan menjadi pupuk bagi tunas-tunas muda seperti kami.
Selamat jalan Bapak Adnan Buyung Nasution yang saya kagumi dan hormati. Semoga amal ibadah mu diterima di sisi Tuhan Yang Maha Esa. Kini engkau telah disembuhkan dan tugas mu telah tertunaikan dengan baik. Rest in Peace.

The Stress Lawyer

Penulis adalah seorang lawyer muda di Jakarta, punya cita-cita menjadi seorang akademi dan terkadang tersesat dalam imajinasi sendiri.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *