ISTILAH SODOMI DAN PENCABULAN DALAM SISTEM HUKUM INDONESIA

bendover

Sumber Foto: Di Sini

Pertanyaan
Bagaimanakah hukum sodomi dalam hukum pidana Indonesia? Lalu apa perbedaan antara pencabulan dan sodomi itu sendiri? Masuk dalam pasal manakah hukum sodomi dalam hukum pidana Indonesia?
Jawaban:
Terimakasih atas pertanyaan yang telah disampaikan. Dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana Indonesia maupun peraturan perundang-undangan lain di luar KUHP tidak mengenal istilah sodomi. Sistem hukum Indonesia hanya mengenal istilah pencabulan dan persetubuhan. Kasus sodomi sering kali dikategorikan sebagai tindak pidana pencabulan. Sehingga dalam pengusutannya dikenakan dengan pasal-pasal tentang pencabulan.
Pasal 290 Kitab Undang-undang Hukum Pidana, menyatakan:
“Dengan hukuman penjara selama-lamanya tujuh tahun dihukum:
(1). Barangsiapa melakukan perbuatan cabul dengan seseorang, sedang diketahuinya bahwa orang itu pingsan atau tidak berdaya.
(2) Barangsiapa melakukan perbuatan cabul dengan seseorang, sedang diketahuinya atau patut harus disangkanya, bahwa umur orang itu belum cukup 15 tahun atau kalau tidak nyata berapa umurnya, bahwa orang itu belum masanya buat dikawin.
(3)   Barang siapa membujuk (menggoda) seseorang, yang diketahuinya atau patut harus disangkanya, bahwa umur orang itu belum cukup 15 tahun atau kalau tidak nyata berapa umurnya, bahwa ia belum masanya buat kawin, akan melakukan atau membiarkan dilakukan pada dirinya perbuatan cabul, atau akan bersetubuh dengan orang lain dengan tiada kawin.”
Jika dalam hal perbuatan sodomi yang dimaksud, dilakukan dengan sesama jenis dimana pelakunya adalah orang dewasa terhadap anak di bawah umur, Pasal 292 Kitab Undang-undang Hukum Pidana, menyatakan:
“Orang dewasa yang melakukan perbuatan cabul dengan orang yang belum dewasa dari jenis kelamin yang sama, sedang diketahuinya atau patut harus disangkanya hal belum dewasa itu, dihukum penjara selama-lamanya lima tahun.”
Sementara itu, mengenai perbuatan cabul yang dilakukan terhadap anak di bawah umur secara spesifik, Pasal 82 Undang-undang Republik Indonesia Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, menyatakan:
“Setiap orang yang dengan sengaja melakukan kekerasan atau ancaman kekerasan, memaksa, melakukan tipu muslihat, serangkaian kebohongan, atau membujuk anak untuk melakukan atau membiarkan dilakukannya perbuatan cabul, dipina dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan paling singkat 3 (tiga) tahun dan denda paling banyak Rp. 300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah) dan paling sedikit Rp. 60.000.000,00 (enam puluh juta rupiah).”
Demikian yang dapat saya sampaikan, kiranya dapat bermanfaat dan jadi bahan pertimbangan bagi anda. Terimakasih.

The Stress Lawyer

Penulis adalah seorang lawyer muda di Jakarta, punya cita-cita menjadi seorang akademi dan terkadang tersesat dalam imajinasi sendiri.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *