LAWYER HARUS MENGERTI SEMUA CABANG HUKUM

Sumber: Di Sini

Sumber: Di Sini

Mungkin saat kuliah dulu, di kampus masing-masing dari kita semua, masih mengenal sistem penjurusan atau peminatan atau konsentrasi hukum. Misalnya pidana, perdata, tata Negara, ekonomi bisnis, hukum internasional dan lain sebagainya.
Gue sendiri sewaktu masih duduk di bangku kuliah, gue mengambil peminatan hukum pidana. Alasan gue cukup sederhana, karena gue dekat banget sama dosen-dosen pengampu mata kuliah hukum pidana dan turunannya. 

Setelah gue lulus dan nekat melamar kerja di lawfirm, ternyata yang sering diujikan adalah hukum perdata dan bisnis, terlebih-lebih hukum perusahaan. Jadi lah waktu itu gue tergagap-gagap untuk menjawab semua pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan ke gue. Akhirnya gue sadar dan membulatkan tekat harus banting setir dan kembali belajar hukum perdata dari yang paling dasar sampai ke cabang-cabangnya.
Nah… kebetulan juga, di kantor yang sekarang, gue malah dipercaya untuk mengisi posisi divisi perdata, tenaga kerja dan tata usaha Negara. Dan tentu saja hari-hari gue dipenuhi dengan konsultasi mengenai masalah perdata dan wara-wiri di pengadilan untuk sidang perdata. Walaupun kadang kala gue merindukan bersidang dengan menggunakan toga lawyer, yang sejak gue jahit hingga sekarang sangat jarang gue kenakan. Tapi bagi gue it’s okay… perdata menarik juga, bahkan gue malah keranjingan untuk lebih memperdalam mengkaji hukum perdata, meskipun pidana selalu ada di hati.
Ternyata pengalaman serupa tak hanya gue yang ngalamin, junior-junior gue di kantor juga punya pengalaman yang gak jauh berbeda. Seringkali ketika gue tanya tentang suatu topik hukum atau teori hukum, tak jarang gue mendapat jawaban seperti ini, “wah gue harus belajar dulu bang, soalnya waktu kuliah gue gak ambil jurusan itu.”
Gue hanya bisa pasrah, tentu gue gak bisa marah ke mereka, karena dulu sebelum “bertobat” gue juga bersikap seperti mereka. Sebagai abang dan senior yang baik dan bijaksana, gue pun tak lupa menasehati mereka, “sebagai lawyer kalian harus memahami hukum itu secara menyeluruh dan komperehensif.”
Tentu saja, omongan gue di atas bukanlah untuk gagah-gagahan. Jika istilah lawyer kita terjemahkan secara harfiah, artinya sebagai ahli hukum. Sebagai ahli hukum kita tidak boleh mengkotak-kotakkan hukum itu sendiri. Hukum ya hukum. Orang-orang awam gak akan mengerti dulu kita kuliah ambil peminatan apa, mereka hanya tahu bahwa kita sarjana hukum, so mengerti semua permasalahan hukum. Tentu saja hal tersebut agak klise.
Dan satu hal lagi, kita bergelar sarjana hukum, buka sarjana hukum perdata, sarjana hukum pidana dan lain sebagainya. Mungkin sebagai seorang lawyer, suatu saat nanti kita mengambil korbisnis tertentu, namun bukan berarti hal tersebut membuat kita tak perlu mempelajari atau mengetahui cabang hukum lainnya. Bagi gue sendiri, meskipun suatu saat nanti gue bakal fokus menjadi lawyer litigasi, gue tetap akan mempelajari dan memperdalam ilmu korporasi. Karena gue ingin dikenal sebagai smart lawyer, yang jika ditanya apa pun tentang hukum, bisa memberikan jawaban dan penjelasan yang memuaskan.

The Stress Lawyer

Penulis adalah seorang lawyer muda di Jakarta, punya cita-cita menjadi seorang akademi dan terkadang tersesat dalam imajinasi sendiri.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *