NO HARD FEELINGS

Sumber: Di Sini

Sumber: Di Sini

Dalam mendampingi seorang klien untuk mengurus suatu permasalahan hukum, tak jarang seorang lawyer harus berhadapan dengan lawyer lainnya. Tentu saja, hal tersebut adalah suatu yang lumrah. Karena pada umumnya, seseorang yang tidak mengerti hukum akan meminta pendampingan professional dari seorang lawyer untuk menghadapi suatu permasalahan hukum.

Nah, sekarang pertanyaannya adalah, bagaimana cara bersikap, jika seorang lawyer ketika berhadapan dengan lawyer lainnya, atau dalam undang-undang advokat dan kode etik setiap lawyer disebutkan sebagai rekan sejawat.
Mungkin pembaca sering melihat dua orang lawyer atau dua tim lawyer berdebat seru bahkan mengarah pada pertengkaran ketika berdiri di dua sisi yang berbeda dalam sebuah perkara. Bagi pandangan awam, tentu hal tersebut langsung disimpulkan menjadi sebuah sikap permusuhan antar kedua lawyer atau tim lawyer tersebut.
Padahal kenyataannya, tidak seperti yang orang awam pikirkan. Seorang lawyer bisa saja tampak “beringas” ketika berdebat dengan lawannya, namun ketika keluar dari topik perkara, dia kembali menjadi rekan sejawat yang akrab. Tentu saja, tak semua lawyer seperti itu. Ada juga tipe lawyer yang menurut gue sedikit “kekanak-kanakan”, yaitu membawa persoalan klien menjadi urusan pribadi.
Padahal seharusnya persoalan klien tak pantas di bawa ke dalam persoalan pribadi. Jika kembali kepada tugas profesi seorang lawyer, bahwa seorang lawyer hanya bertindak sebagai kuasa hukum atau penasihat hukum dari si klien. Sehingga segala sesuatu yang seharusnya diluar tanggung jawab profesi, tak perlu di bawa dalam hati dan kehidupan pribadi.
Gue sendiri sebagai seorang lawyer muda, selalu diajarkan untuk bertindak sesuai dengan tugas dan tanggungjawab sebagai lawyer professional, yang artinya gue dilarang untuk bersikap seolah-olah prinsipal yang memiliki perkara tersebut. Memang seharusnya demikian.
Jadi sepanjang pengalaman pribadi gue dalam menjalani profesi lawyer ini, ketika berhadapan dengan rekan sejawat, sebisa mungkin gue harus bertindak professional. Tegas saat mendampingi kepentingan hukum klien, namun berusaha menjadi rekan sejawat yang baik di luar perkara.
Gue tak segan untuk menyapa atau bersikap ramah kepada lawyer yang menjadi “lawan” gue dalam suatu perkara, ketika bertemu di suatu tempat. Begitu juga sebaliknya, gue sangat menghargai rekan sejawat yang bersikap ramah dan bersahabat kepada gue ketika bertemu di luar perkara. 
Dalam beberapa kesempatan, gue sering mendengar seorang lawyer berkata kepada lawyer lawannya ketika keluar dari ruang sidang sambil bersalaman, “No hard feelingsya bang.” Dan gue juga sebisa mungkin selalu mengucapkan kata-kata itu, kepada lawyer lawan ketika menurut gue suasana hati gue dan lawyer lawan sudah mulai tidak enak.
Jadi intinya, sebagai seorang lawyer professional, dalam menjalankan profesi dan berhadapan dengan rekan sejawat hendaknya tidak perlu membawa permasalahan klien menjadi masalah pribadi atau dalam bahasa kekiniannya, “Jangan Baper lah”.

The Stress Lawyer

Penulis adalah seorang lawyer muda di Jakarta, punya cita-cita menjadi seorang akademi dan terkadang tersesat dalam imajinasi sendiri.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *