LAWYER (SEHARUSNYA) NASIONALIS

nasionalis
Sumber Foto: Di Sini

Sebagai seorang yang memiliki latar belakang pendidikan sarjana hukum, seorang lawyer tentunya dapat dikategorikan sebagai seorang ahli hukum. Hal tersebut adalah kenyataan, karena sudah sepatutnya demikian. Bayangkan belajar hukum selama empat tahun atau lebih, masa iya tidak mengerti hukum juga.

Selama masa kuliah tersebut, seorang mahasiswa hukum berkutit dengan berbagai macam aturan hukum, mulai dari yang paling dasar hingga pada turunan-turunan. Memang, seorang sarjana hukum terlebih seorang lawyer, tidak harus menghafal pasal-pasal, walaupun mungkin ada aja yang menghafalnya. Namun yang terpenting adalah memahami sejumlah aturan hukum tersebut.
Pengalaman gue ketika kuliah dulu, pada semester awal, seorang mahasiswa hukum wajib mengambil mata kuliah dasar, diantaranya Pendidikan Pancasila, pengantar hukum Indonesia, Ilmu Negara, hukum tata Negara dan lain sebagainya. Sebagai calon sarjana hukum, kita diperkenalkan dengan urutan perundang-undangan yang berlaku di negeri ini, dimulai dari Undang-Undang Dasar sampai ke bawah-bawahnya.
Undang-undang Dasar 1945, kita kenal sebagai konstitusi Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang menjadi induk dari seluruh peraturan perundang-undangan yang berlaku di Negara ini. Makanya, apabila terdapat suatu aturan hukum yang bertentangan dengan Undang-Undang Dasar, maka aturan tersebut dapat di judicial review(pengujuan Undang-undang) ke Mahkamah Konstitusi, itu artinya undang-undang tidak dapat melangkahi Undang-Undang Dasar 1945.
Oleh karena itu, setelah lulus dari mata kuliah-mata kuliah dasar tersebut, sudah sepantas seorang sarjana hukum mengerti bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah Negara demokrasi yang berlandaskan Pancasila dan Undang-Undang Dasar tahun 1945. Seorang sarja hukum juga harus memahami bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah Negara yang beranekaragam suku budaya, bahasa dan agama, sehingga Negara ini bukan lah milik satu golongan saja.
Tapi sayangnya banyak sarjana hukum, terlebih lagi seorang pengacara (lawyer) yang telah melupakan semua dasar-dasar Negara tersebut. Gue gak pernah tahu, apakah mereka sengaja melupakannya atau memang tidak pernah tahu. Namun gue merasa mereka memang tidak pernah peduli.
Kadang gue kesal dan gemas melihat adanya oknum yang mengaku dirinya lawyer, namun terlibat dalam pertikaian yang membawa-bawa isu SARA. Padahal ketika seorang lawyer diangkat sumpahnya diatas kitab suci agama masing-masing, seorang lawyer bersumpah atau berjanji untuk senantiasa mengakkan hukum dan setia kepada Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945.
Dari persahabatan gue ketika kuliah dulu, gue juga belajar bahwa kebersamaan itu indah. Gue punya sahabat dari suku Jawa, Sunda, Betawa, Etnis India. Agamanya pun beragam, Islam, Kristen dan Hindu. Gue belajar memahami bahwa kebersamaan itu tak harus selalu sama, cukup lah kita satu bangsa, satu tanah air, dan satu bahasa Indonesia, selebihnya baik suku, agama, selera, budaya dan adat istiadat boleh berbeda.
Gue pribadi sebagai seorang lawyer, memang gue tidak berani mengatakan bahwa diri gue adalah seorang nasionalis sejati, namun gue selalu berusaha untuk menjunjung tinggi semangat nasionalisme dalam menjalankan profesi yang telah gue pilih ini. Pengalaman dalam menangani perkara secara prodeo adalah salah satu bentuk pengajaran yang memberikan gue semangat untuk semakin menjunjung tinggi nilai nasionalisme dan bhinneka tunggal ika.
Makanya, dalam menerima seorang klien, gue paling sebal jika si calon klien tiba-tiba membawa-bawa suku, agama atau etnis tertentu. Bagi gue, selama dia memang pantas dan layak untuk dibantu, pasti akan kami bantu tanpa memandang suku, agama, ras dan golongan. Karena ketika gue disumpah sebagai seorang lawyer, gue sudah berjanji atas nama Tuhan, bahwa gue tidak akan membeda-bedakan suku, agama, ras dan golongan dalam memberikan bantuan hukum. Dan gue juga sudah berjanji untuk menjunjung tinggi Pancasila dan UUD 1945 serta NKRI adalah harga mati.

The Stress Lawyer

Penulis adalah seorang lawyer muda di Jakarta, punya cita-cita menjadi seorang akademi dan terkadang tersesat dalam imajinasi sendiri.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *