HUKUMAN KEBIRI, “NYERI NYA TUH DI SINI”

kebiri
Sumber Foto: Di Sini

Ramai nya kasus kekerasan seksual terhadap anak akhir-akhir ini, menimbulkan keresahan di tengah-tengah masyarakat. Apalagi bagi orang tua yang memiliki anak perempuan usia balita hingga remaja. Parahnya lagi, si pelaku tak hanya melakukan pemerkosaan atau pelecehan seksual, bahkan tak jarang si korban juga dihabisi nyawanya.

 
Pada akhirnya, di tengah publik yang kian resah, muncul pendapat-pendapat yang menyuarakan tentang pelaksanaan hukuman kebiri bagi pelaku pedofilia. Entah siapa yang pertama kali mengemukakan pendapat tersebut. Namun kini telah bergulir dan dukungan masyarakat semakin meluas.
 
Bagi gue pribadi, mendengar kata “kebiri” pikiran gue langsung kembali ke masa kecil di kampung dulu. Waktu tinggal di kampung, mamak gue beternak babi pedaging. Biasanya babi kecil ini, akan dikebiri agar pertumbuhannya cepat. Gue sering menemani mamak menyaksikan si mantri hewan mengeksekusi “anunya” si babi kecil. Gue paling tidak kuat mendengar jeritan pilu si babi kecil saat pisau silet merobek kulitnya “anu” nya. Gue tak bisa membayangkan perih dan nyeri yang dialami si babi kecil pada saat itu.
 
Dengan adanya ide kebiri bagi pelaku pedofilia ini, yang terbayang di benak gue langsung teriakan pilu dari si babi kecil. Oke lah, memang gue yakin dan percaya, jika pun hukuman kebiri di berlakukan, tentunya tidak dengan metode yang sama dengan yang digunakan si mantri hewan kepada si babi kecil. Namun tetap saja gue merasa nyeri membayangkannya.
 
Bagi gue pribadi, gue sangat mengutuk keras tindakan kekerasan terhadap anak, apalagi jika sampai berujung pada pembunuhan. Namun jika ditanya tentang layak kah si pelaku untuk dikebiri? Tunggu dulu, gue tidak mau asal berpendapat.
 
Gue sepakat agar si pelaku dihukum berat sesuai dengan aturan hukum yang berlaku, tapi untuk dikebiri tampaknya gue mengambil sikap yang berbeda dengan orang lain. Gue secara prinsip tidak menyukai bentuk-bentuk hukuman yang berupa “penyiksaan” fisik maupun penghilangan nyawa (hukuman mati).
 
Bukannya gue membela si pelaku, tetapi gue mencoba melihat dari sisi yang berbeda. Pertama, hukuman kebiri tidak atau belum dikenal dalam sistem hukum pidana di Indonesia, sehingga secara legalitas belum bisa dilaksanakan. Lalu yang kedua, bayangkan jika ada seorang yang dituduh melakukan kekerasan seksual terhadap anak, diputus pengadilan lalu kemudian dikebiri. Eh.. ternyata ditemukan bukti baru, bahwa si pelaku yang sudah terlanjur di kebiri tersebut bukanlah pelaku asli, dia hanya korban salah tangkap. Bagaimana jika sudah terlajur dikebiri? Meski pun negara mau bayar ganti rugi sebanyak apapun tentu tidak akan mengembalikan “anu” nya yang sudah terlajur dikebiri.
 
Pikiran liar gue juga berpendapat, saat ini tak selamanya kekerasan seksual itu dilakukan dengan “kelamin” si pelaku. Bisa saja, pemerkosaan dan pencabulan dilakukan dengan menggunakan tangan, mulut, kaki atau benda-benda mati lainnya. Apa iya, jika ternyata demikian, “anu” nya tetap harus dikebiri.
 
Memang sih, kebiri itu tidak hanya dilakukan dengan memotong kelamin si pelaku, kebiri hormon pun ada, yaitu dengan mematikan hormon testosteron si pelaku melalui obat-obatan dan zat kimia. Gue jadi teringat dengan tokoh Alan Turin di film The Imitation Game, yang dikebiri secara hormon karena dia seorang gay, yang mana pada masa itu gay merupakan sesuatu yang dilarang oleh hukum. Pada akhirnya pengembirian itu berimbas pada kesehatan fisik dan jiwanya, sampai pada akhirnya dia memilih bunuh diri.
 
Walaupun pelaku pedofilia adalah golongan orang yang tidak beradab dan berperikemanusiaan, namun gue tetap tidak sepakat hukuman kebiri dilaksanakan. Bukankah sistem hukum kita telah mengakomodir tentang penindakan atas kekerasan terhadap anak melalui undang-undang perlindungan anak dan kitab undang-undang hukum pidana? Itu saja dilaksanakan dengan tegas, masalah efek jera, semuanya kembali ke diri masing-masing. Mau dihukum mati juga, tetap akan muncul pedofil-pedofil lainnya.

The Stress Lawyer

Penulis adalah seorang lawyer muda di Jakarta, punya cita-cita menjadi seorang akademi dan terkadang tersesat dalam imajinasi sendiri.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *