MENANDATANGANI SURAT CERAI

Sumber Foto: Disini

Meski pun gue paling sebal mendapatkan perkara perceraian, tapi sayangnya, masalah ini hampir tiap hari datang ke kantor gue, baik mau sekedar konsultasi maupun minta pendampingan hukum. Di kantor gue tegas menolak untuk mengajukan gugatan perceraian, kantor kami hanya bisa memberikan bantuan hukum kepada Tergugat dalam kasus perceraian itupun dengan syarat bahwa si Tergugat hendak mempertahankan perkawinannya.

 
Dari pengalaman gue, klien perceraian yang rada-rada banyak masalah. Mungkin kebanyakan nonton sinetron kali ya. Tak jarang mereka bertanya ke gue, “Pak kalo saya tidak tanda tangan berarti gak bisa ceraikan pak?”
 
“Tandatangan? Tandatangan apa bu?”
 
“Ya itu loh pak, tanda tangan surat perceraian.”
 
Dalam hati gue hanya bisa bilang, “Begini nih kalo kebanyakan nonton sinetron dan film Korea.” Cerai mah lewat pengadilan. Pengadilan Negeri bagi yang beragama selain Islam dan Pengadilan Agama bagi yang beragama Islam, gak ada itu tandatangan-tandatanganan.
 
Walaupun terkadang gue sudah mencoba untuk meluruskan, namun masih ada yang ngeyel. “Lah kalau saya gak mau cerai, apa hak Pengadilan menceraikan saya. Pokoknya saya gak mau tanda tangan..!!!”
 
Ya Tuhan, tanda tangan lagi. Gangguan kali si ibu ya.
 
Belum lagi ada yang datang sepasang suami isteri, “Pak ini isteri saya, kami sudah menikah selama 3 tahun, ternyata kami tidak cocok dan kami sepakat untuk bercerai.”
 
“Tidak cocok bagaimana pak bu? Saya lihat ibu dan bapak baik-baik saja, atau memang selama ini ada pertengkaran?” Gue bertanya dengan polos nya.
 
“Bukan pak, kami tidak pernah bertengkar, Cuma sudah tidak cemistry diantara kami. Jadi kami sepakat untuk mengakhiri hubungan ini dengan baik-baik. Jadi kami harus tandatangan surat perceraiannya di mana ya pak..?”
 
GUBRAKKK…..tandatangan lagi, ya Tuhan tolong hapuskan istilah tandatangan dari Kamus Besar Bahasa Indonesia…” Gue meratap.
 
Di sini gue mau meluruskan buat lo semua yang mungkin sedang kesasar ke blog ini. Jadi dalam hukum perceraian di Indonesia itu, tidak mengenal sepakat untuk cerai dan tidak pula ada proses tandatangan surat perceraian. OK PAHAMM.!!!!
 
Jadi begini, untuk perceraian bagi orang Kristen, Hindu, Budha dan Konghuchu, mengenai masalah perceraian diatur dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perceraian jo. PP Nomor 9 tahun 1975. Kemudian dalam ketentuan Pasal 39 ayat (1) Undang-Undang Perkawinan, disebutkan sebagai berikut:
 
“Perceraian hanya dapat dilakukan di depan sidang pengadilan setelah pengadilan yang bersangkutan berusaha dan tidak berhasil mendamaikan kedua belah pihak.”
 
Hal senada juga diatur dalam Pasal 115 Kompilasi Hukum Islam yang berlaku bagi orang yang beragam Islam, yang menyatakan sebagai berikut:
 
“Perceraian hanya dapat dilakukan di depan sidang Pengadilan Agama setelah Pengadilan Agama tersebut berusaha dan tidak berhasil mendamaikan kedua belah pihak.”
 
Dari kedua ketentuan yang udah gue sebutin di atas, udah pada jelaskan bahwa dalam perceraian yang sah itu gak ada namanya tanda tangan surat apa pun. Yang ada, lo ajuin gugatan ke pengadilan negeri atau pengadilan agama, setelah itu sidang. Bukti diperiksa, terus hakim memutuskan. Kalau hakim sudah memutuskan, gak ada lagi istilah, “Kan saya gak mau cerai.!”
 
Terus bagaimana kalau yang pengen cerai berdasarkan kesepakatan kedua belah pihak? Kan gue udah jelasin bahwa untuk bercerai itu harus melalui prosedur gugatan di pengadilan. Kalau udah di pengadilan itu sudah bukan kesepakatan lagi, tapi sengketa.
 
Dalam PP Nomor 9 Tahun 1975, Pasal 19, disebutkan:
 
“Perceraian dapat terjadi karena alasan atau alasan-alasan:
a.      Salah satu pihak berbuat zina atau menjadi pemabuk, pemadat, penjudi dan lain sebagainya yang sukar disembuhkan;
b.      Salah satu pihak meninggalkan pihak lain selama 2 (dua) tahun berturut-turut tanpa izin pihak lain dan tanpa alasan yang sah atau karena hal lain di luar kemampuannya;
c.       Salah satu pihak mendapat hukuman penjara 5 (lima) tahun atau hukuman yang lebih berat setelah perkawinan berlangsung;
d.      Salah satu pihak melakukan kekejaman atau penganiayaan berat yang membahayakan pihak yang lain;
e.       Salah satu pihak mendapat cacat badan atau penyakit dengan akibat tidak dapat menjalankan kewajibannya sebagai suami/isteri;
f.        Antara suami dan isteri terus-menerus terjadi perselisihan dan pertengkaran dan tidak ada harapan akan hidup rukun lagi dalam rumah tangga.”
 
Hal yang sama juga diatur dalam ketentuan Pasal 116 Kompilasi Hukum Islam, namun ditambahkan 2 (dua) poin lagi, yaitu sebagai berikut:
 
“Perceraian dapat terjadi karena alasan atau alasan-alasan:
a.      Salah satu pihak berbuat zina atau menjadi pemabuk, pemadat, penjudi dan lain sebagainya yang sukar disembuhkan;
b.      Salah satu pihak meninggalkan pihak lain selama 2 (dua) tahun berturut-turut tanpa izin pihak lain dan tanpa alasan yang sah atau karena hal lain di luar kemampuannya;
c.       Salah satu pihak mendapat hukuman penjara 5 (lima) tahun atau hukuman yang lebih berat setelah perkawinan berlangsung;
d.      Salah satu pihak melakukan kekejaman atau penganiayaan berat yang membahayakan pihak yang lain;
e.       Salah satu pihak mendapat cacat badan atau penyakit dengan akibat tidak dapat menjalankan kewajibannya sebagai suami/isteri;
f.        Antara suami dan isteri terus-menerus terjadi perselisihan dan pertengkaran dan tidak ada harapan akan hidup rukun lagi dalam rumah tangga.
g.      Suami melanggar taklik talak;
h.      Peralihan agama atau murtad yang menyebabkan terjadinya ketidakrukukan dalam rumah tangga.”
 
Udah pada ngertikan setelah gue sebutin alasan-alasan perceraian di atas. Jadi sangat tidak diperbolehkan seseorang itu bercerai karena sepakat untuk bercerai, atau alasan seperti sudah tidak ada cemistry. Namun tentunya di luar sana banyak yang melakukan penyelundupan hukum, misalnya awalnya mereka sepakat untuk bercerai karena sudah bosan, maka keduanya pura-pura bertengkar agar alasan perceraian sebagaimana dimaksud dalam undang-undang dapat terpenuhi.
 
Namun, gue pesankan kepada pembaca, sebisa mungkin jangan melakukan hal-hal tersebut ya. Dan sebisa mungkin juga, jangan sampai bercerai. So kalau lo memang belum siap untuk menikah lebih baik ditunda dulu, daripada ntar endingnya bercerai, kasian kalau sudah punya anak.

The Stress Lawyer

Penulis adalah seorang lawyer muda di Jakarta, punya cita-cita menjadi seorang akademi dan terkadang tersesat dalam imajinasi sendiri.

Mungkin Anda juga menyukai

5 Respon

  1. Fandy berkata:

    Mas saya mau tanya…jika istri saya mengajukan cerai dan saya tidak merasa mendapatkan surat pemanggilan dari pengadilan trus saya juga gak merasa tanda tangani surat cerai…itu sah gak mas secara hukum agama dan negara.

  2. Fandy berkata:

    Saya haya ingin tau mas…hukumnya sah atau tidak. Karna saya tidak merasa dapat surat pemanggilan dari pengadilan dan saya tidak merasa menandatangini surat cerai.

  3. The Stress Lawyer berkata:

    untuk masalah tandatangan, sebagaimana saya sebutkan di atas, bahwa tidak ada istilah tandatangan surat perceraian. Untuk pemanggilan seharusnya dikirimkan ke alamat domisili atau alamat ktp bapak. apabila bapak merasa tidak mendapatkan surat panggilan sidang dari pengadilan, bapak bisa mengajukan upaya hukum verzet, namun upaya tersebut terbatas hanya 14 hari sejak putusan diberitahukan kepada bapak.

  4. Angelina berkata:

    Pak apakah proses perceraian memerlukan tanda tangan orang tua dalam surat surat yang diperlukan? Karna sulit sekali saya memperoleh ttd orang tua karena mereka tidak menginginkan adanya perceraian, padahal rumah tangga saya sudah tidak bisa lagi diperbaiki, terima kasih

    • The Stress Lawyer berkata:

      berkas-berkas yang memerlukan tandatangan dalam proses perceraian di pengadilan hanya lah berkas-berkas sidang seperti gugatan, jawaban, replik, duplik, daftar bukti, kesimpulan, kalau menggunakan jasa lawyer cukup tandatangan surat kuasa saja. Mengenai apakah perlu persetujuan orang tua, secara hukum tidak perlu, karena ketika orang menikah secara hukum dianggap telah dewasa dan dapat melakukan perbuatan hukum.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *