KONSULTASI SPEECHLESS

speechless
Sumber Foto: Di sini
Sudah menjadi kebiasaan gue saat menerima konsultasi, hal pertama yang gue tanyakan kepada si calon klien adalah, “Apa nih masalahnya pak/bu, boleh diceritakan?”
Kebiasaan ini gue lakukan, untuk memberikan kesempatan kepada si klien untuk menyampaikan masalahnya secara jelas. Meskipun terkadang ada saja calon klien yang ketika diberi kesempatan, langsung berbicara tiada henti, curhat sana sini. Bisanya jika kondisinya sudah seperti ini, maka gue langsung mengarahkan si calon klien untuk kembali ke permasalahan, atau memotong pembicaraan yang tidak masuk pada pokok perkara.
Nah biasanya, setelah gue persilahkan, si calon klien akan mengeluarkan semua unek-unek dan permasalahannya. Namun selain calon klien yang doyan ngomong dan maunya didengarkan saja, ada juga loh calon klien yang bingung sendiri sampai gak bisa ngomong dan menjelaskankan duduk masalahnya.
Kebetulan siang ini, gue baru terima calon klien yang seperti ini. Jadi ini ibu datang ke kantor kami karena direkomendasikan oleh temannya. Setelah beramahtamah, gue langsung mengeluarkan kalimat pembuka gue.
“Jadi ibu apa nih masalahnya boleh diceritakan kepada kami?”
Si ibu terdiam sejenak, sambil mengeluarkan berlembar-lembar surat dan dokumen dari dalam tasnya. Kemudian meletakkannya di atas meja, sambil memijit keningnya.
“Saya bingung pak. Dan saya enek sendiri sampai saya pengen muntah rasanya.” Jawab si ibu.
Waduh.. si ibu parah nih. Masa baru ngeliat muka gue udah pengen muntah-muntah aja. Emang separah itu. Batin gue.
Kemudian gue mencoba memancing si ibu dengan beberapa pertanyaan sederhana. Hingga kemudian si ibu pun mampu untuk berbicara dengan lancar, yang intinya dia punya tanah dan di tanah tersebut dibangun orang menara telepon tanpa izin dan persetujuan si ibu maupun suami si ibu.
Jadi si ibu sudah mencoba bernegosiasi dengan orang tersebut, ternyata si ibu malah dibohongi dan dipimpong ke sana kemari. Ohh… jadi si ibu enek sama tuh orang, bukan sama gue ternyata. Bagus lah kalau begitu… hehehehe
Menghadapi calon klien yang seperti ini memang dibutuhkan kesabaran ekstra dan memerlukan trik untuk membuat si calon klien dapat bercerita dengan nyaman kepada kita. Perlu juga diperlukan teknik wawancaranya jangan sampai si calon klien semakin tertekan dan tidak menemukan solusi, padahal maksud dan tujuannya untuk berkonsultasi adalah untuk mendapatkan solusi.
Jadi sebagai seorang lawyer, harus menghadapi kondisi-kondisi seperti ini. Gue lebih suka menyebutnya dengan konsultasi speechless.

The Stress Lawyer

Penulis adalah seorang lawyer muda di Jakarta, punya cita-cita menjadi seorang akademi dan terkadang tersesat dalam imajinasi sendiri.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *