MENENTUKAN SIKAP YANG LEBIH FAIR BAGI KAUM LGBT

lgbt
Sumber Foto: Di sini

Lesbian, Gay, Biseksual dan Transeksual atau biasa disingkat menjadi LGBT, belakang ini semakin santer dibicarakan. Bahkan pro dan kontra nya banyak bertebaran di sosial media, grup bbm, whatsapp, line atau forum-forum semacam kaskus.

Sebenarnya isu LGBT, bukan lah isu yang baru dikenal oleh masyarakat global. Bagi penganut agama samawi, isu homoseksual telah diulas dalam kitab suci, yakni kisah Sodom dan Gomora. Bahkan istilah sodomi adalah serapan dari nama Sodom.
Masyarakat Eropa pada umumnya sudah lebih terbuka pada isu yang satu ini. Meskipun ada beberapa kelompok konservatif yang masih berjuang untuk menolak eksistensi mereka.

Meskipun masyarakat mulai welcome, namun diskriminasi terhadap kaum LGBT masih terjadi di mana-mana. Banyak pandangan yang mencoba menyudutkan keberadaan kaum LGBT. Misalnya, banyak orang yang berpendapat bahwa hilangnya Atlantis dan hancurnya kota Pompeii adalah bentuk murka Tuhan atas perilaku masyarakat yang menyimpang khususnya perilaku seks yang menyimpang.

Tentu saja bagi pandangan ilmiah hal tersebut hanya lelucon belaka. Atlantis sampai sekarang belum bisa dibuktikan keberadaannya dan Pompeii hancur karena bencana alam.

Salah satu yang sering dituntut oleh komunitas LGBT adalah pengakuan atas eksistensi mereka, di samping itu pula agar negara juga mengakui perkawinan yang dilakukan oleh kaum LGBT. Sejak 2001, Belanda terhitung sebagai negara pertama yang melegalkan perkawinan sejenis. Kemudian diikuti oleh negara-negara Eropa lainnya. Pertengahan 2015 yg silam, Amerika Serikat pun ikut memberikan legalitas perkawinan sejenis. Kaum LGBT bersorak, dan dukungan sekaligus penolakan pun bergaung dimana-mana.

Di Indonesia sendiri banyak komunitas underground yang menaungi para kaum LGBT. Salah satunya Arus Pelangi, yang beberapa kali ikut aksi turun ke jalan menuntut agar pemerintah memberikan pengakuan dan tidak menutup mata atas keberadaan mereka.

Pada pembuka tahun 2016, muncul pro dan kontra terhadap statement Menteri Ristek dan Dikti yang menolak LGBT masuk kampus. Ditambah lagi anjuran dari Walikota bandung Ridwan Kamil yang menghimbau agar kaum LGBT tidak mengekspose hubungan mereka di tempat umum.

Sekali lagi berita heboh, sosial media bergejolak. Kamu pro dan kontra saling menuding bahkan saling menghina dan mencaci maki. Ironis sekali.

Penulis sendiri hingga saat ini belum bisa menentukan pendapat terkait mendukung atau menolak keberadaan kaum LGBT. Namun penulis sendiri menyadari, peradaban manusia terus berkembang. Masuknya era post modern diawal abad 21 ini menyingkap tabir yang selama ini tertutup, yang dulu tabu, sekarang menjadi biasa diperbincangkan. Kita harus mengakui bahwa kaum LGBT itu ada dan menjadi bagian dari masyarakat yang terus berkembang.

Kita harus mampu menerima bahwa mereka ada di sekitar kita. Sebagai warga negara, hak-hak mereka sebagai warga negara harus tetap dilindungi, bebas dari rasa takut, intimidasi dan diskriminasi.

Mengenai tuntutan mereka agar perkawinan sejenis dilegalkan oleh negara, untuk saat itu jelas belum dapat diakomodir, mengingat Undang-Undang Perkawinan dan Kompilasi Hukum Islam hanya mengenal perkawinan heteroseksual. Penulis pun kembali tak dapat menentukan sikap dukungan atau penolakan atas tuntutan ini.

Sebagai orang yang menjunjung tinggi hak asasi manusia, penulis jelas menolak semua perlakuan tidak manusiawi yang ditujukan kepada kaum LGBT, karena mereka adalah bagian dari kehidupan ini.

Hanya saja, saat penulis kembali merenung, bagaimana jika suatu saat ada dari anggota keluarga atau keturunan penulis yang memiliki orientasi seks menyimpang dan menjadi bagian dari kaum LGBT itu sendiri, sanggupkah penulis menerima pilihan mereka? Penulis belum berani menjawab.

Maaf jika penulis berdiri di zona abu-abu dan terlihat munafik serta tidak berpendirian. Namun semampunya, penulis akan selalu berusaha untuk bersikap fair kepada siapa pun termasuk kaum LGBT.

The Stress Lawyer

Penulis adalah seorang lawyer muda di Jakarta, punya cita-cita menjadi seorang akademi dan terkadang tersesat dalam imajinasi sendiri.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *