KLIEN INTELEK VS LAWYER BINGUNG

confused lawyer
Sumber: Di Sini

Entah kenapa, seringkali gue mendapat bagian untuk berhadapan dengan klien-klien yang rada aneh dan keseringan melenceng dari bantuan hukum yang seharusnya menjadi pekerjaan gue. Tapi ya mau gimana lagi, itu adalah bagian dari dinamika yang harus gue hadapi sebagai seorang lawyer. Gue jelas gak bisa selalu berharap untuk bertemu dengan orang-orang yang normal saja, terkadang kita harus berhadapan dengan orang-orang yang sebaliknya.

Seperti yang sedang gue alamin siang ini, kebetulan sebagian besar lawyer di kantor pada keluar ke pengadilan maupun koordinasi ke kepolisian, tinggal lah gue dengan setumpuk berkas dan softcopy kerjaan yang rasanya gak ada habisnya. Lalu resepsionis meminta gue untuk menemui seorang calon klien yang hendak berkonsultasi.
Akhirnya gue turun sambil membawa undang-undang terkait permasalahan si calon klien. Awalnya gue sedikit tertarik dengan calon klien yang satu ini, karena menurut penuturannya, dia datang jauh-jauh dari pulau seberang untuk berkonsultasi di kantor kami.
Seperti biasa gue membuka pembicaraan, lalu si calon klien langsung berbicara panjang lebar mengenai dunia tulis menulis dan facebook. Gue bengong dong saat itu juga. Sampai akhirnya nyawa gue kembali ke bumi dan gue memperjelas maksud si bapak.
Lalu si bapak menjelaskan bahwa dia menulis di facebook dan menurut pengakuannya facebook akan membayar royaltinya sekian ribu dollar Amerika Serikat. Gue semakin bingung, perasaan sejak gue pake facebook tahun 2007, gak pernah gue dibayarin sama om Mark buat tulisan yang gue posting di facebook. Padahal tulisan gue banyak nyampah di facebook, saat itu gue merasa bahwa om Mark telah menzolimi gue… hahahaha
Gue mulai curiga dengan si bapak, namun gue tetap pura-pura menyimak meskipun otak gue sudah memberi warning error. Lagi-lagi gue mencoba mengarahkan si bapak agar fokus pada pokok masalah. Dan hasilnya si bapak semakin menjadi-jadi dengan menjelaskan sesuatu yang rumit dengan bahasa yang mungkin saat ini kita kenal sebagai bahasa “Vikinisasi”.
Otak cetek gue hampir mencapai tahap overload mendengar ocehan si bapak. Lalu si bapak berkata ke gue:
“Bapak mungkin menganggap saya tidak intelek, sebuah anomali bahwa saya sering bersinggungan dengan golongan marjinal, yang mana saya banyak membuat tulisan yang berdasarkan ilham Ilahi yang dinubuatkan kepada saya sebagai suatu pembelajaran bagi orang-orang.”
Otak gue sampai pada batas akhirnya. Gue menarik nafas dan memotong pembicaraan si bapak dan menanyakan tujuannya. Dan gue menjelaskan bahwa kantor kami tidak bisa mendampinginya dan memberikan bantuan hukum lainnya.
Kemudian si bapak mengacak-acak isi tasnya dan mengeluarkan berkotak-kotak batu akik yang gue sama sekali gak ngerti jenis-jenisnya. Lalu si bapak menjelaskan layaknya seorang manager marketing handal. Namun karena pada dasarkan gue gak mengerti dan gak tertarik dengan akik, gue mengakhiri semua keruwetan ini.
Sekali lagi dengan sopan gue minta maaf kepada si bapak bahwa gue tidak bisa mengabulkan permintaannya, dan si bapak pun pamit pulang.
Dari pengalaman ini, bagi gue ini bukanlah yang pertama, dan mungkin akan ada pengalaman-pengalaman selanjutnya. Namun di sini gue belajar, bahwa bagaimana pun kondisi si calon klien yang datang kepada kita, kita tetap harus memperlakukannya sama dengan calon klien lainnya. Hanya saja kita perlu bijak untuk tidak ikut terbawa dalam keruwetan yang timbul, butuh kebijaksanaan untuk dapat mengakhirinya dengan baik. Kadang gue juga berfikir, mungkin saja ini adalah salah satu lelucon yang dikirim Tuhan kepada kita agar sebagai seorang lawyer tidak melulu tegang dengan undang-undang dan penegakan hukum yang kian gak jelas di negeri ini.

The Stress Lawyer

Penulis adalah seorang lawyer muda di Jakarta, punya cita-cita menjadi seorang akademi dan terkadang tersesat dalam imajinasi sendiri.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *