KETIKA KLIEN DIRENDAHKAN

sumo-wrestlers-600x320
Sumber Foto: Di Sini
Sebagai orang yang bekerja di Lembaga Bantuan Hukum (LBH) tentu saja 100% klien nya adalah orang-orang golongan menengah ke bawah. Dan permasalahannya beranekaragam dengan tingkat kompleksitas yang berbeda pula. Sebagaimana yang sudah gue bahas dalam artikel-artikel sebelumnya.
Tak jarang pula gue harus turun tangan untuk menyelesaikan permasalahan sengketa perburuhan atau mungkin sekarang dikenal dengan sengketa hubungan industrial. Secara umum sengketa ini melingkupi 4 hal, yaitu sengketa hak, sengketa kepentingan, perselisihan serikat buruh/serikat perekerja dan yang terakhir masalah Pemutusan Hubungan Kerja (PHK).
Nah, masalah PHK ini yang paling sering gue tanganin. Penyebabnya banyak, ada yang memang karena kesalahan yang dilakukan oleh si pekerja namun ada juga yang lebih bersifat subjektif yaitu masalah like or dislike.
Undang-undang sebenarnya sudah mengatur mengenai bagaimana penyelesaian permasalah tersebut, tak hanya itu, masalah hak-hak normatif yang harus dibayarkan kepada si buruh juga telah diberikan hitung-hitungannya oleh Undang-Undang Ketenagakerjaan. Namun sayangnya banyak juga perusahaan yang ngeyel, tak mau tahu sehingga asal saja membuat peraturan perusahaan, padahal jelas-jelas bertentangan dengan undang-undang ketenagakerjaan.
Terkait masalah PHK, untuk besaran pesangon, penghargaan masa kerja dan penggantian hak, sudah diatur secara jelas sejelas-jelasnya dalam undang-undang. Berapa perhitungan kepada karyawan yang melakukan kesalahan dan berapa perhitungan bagi karyawan yang tidak melakukan kesalahan. Namun lagi-lagi perusahaan sering kali menutup mata.
Untuk perkara seperti itu, gue biasanya akan merundingkan kepada perusahaan terlebih dahulu, karena hukum acara nya juga mensyaratkan bahwa perundingan dua pihak dengan perusahaan adalah mutlak. Dalam perundingan ini, biasanya gue akan memaparkan mengenai segala aturan hukum dan perhitungan hak normatif yang seharusnya diterima oleh klien kami.
Jika perusahaan yang baik dan pejabat perusahaannya juga baik, tentu tidak jadi masalah. Mereka biasanya akan langsung mengerti, dan sebisa mungkin melakukan negosiasi mengenai besaran hak yang mampu mereka bayarkan. Gue selalu terbuka terhadap segala bentuk penawaran, dengan catatan tidak merugikan klien kami dan tentunya tidak melanggar hukum.
Namun dongkolnya, jika ketemu dengan perusahaan yang ngeyel dan perwakilan perusahaan yang sok berkuasa. Biasanya menghadapi orang-orang seperti ini, gue akan lebih nyolot lagi. Pernah gue ngebentak seorang perwakilan perusahaan karena terlalu menyudutkan klien gue dan kekeuh tidak mau mematuhi undang-undang.
“Jika ibu tidak mau mematuhi segala peraturan perudang-undangan yang ada di negara ini, silahkan perusahaan ibu angkat kaki dari negara ini. Ini negara hukum gak ada yang boleh semau gue. Sekaran bagaimana, ibu terima penawaran kami, atau kita lanjut ke pengadilan.”
Sikap perusahaan yang sering memojokkan pekerja dalam hal ini klien kami, sering kali terjadi. Rekan gue di kantor juga pernah bercerita, bahwa dia pernah menggebrak meja di kantor perusahaan di depan para direktur, karena salah seorang manager di sana merendahkan klien kami. Jadi si manager ini berceloteh, seperti ini di depan teman gue:
“Repot amat sih, duit gak seberapa dibikin ribet.”
Teman gue gak terima, mungkin bagi dia duit lima juta bukanlah nilai yang besar, tapi bagi klien gue itu sangat besar. Hal tersebut menunjukkan kesombongan dari si manager, teman gue langsung berdiri dan memukul meja.
“Tadi ibu bilang ini duit tidak seberapa, tapi kenapa tidak bisa diserahkan hari ini ke klien kami. Ini klien sudah datang jauh-jauh dari luar kota hanya untuk menerima uang ini. Sekarang silahkan pilih, ibu bayar sekarang, atau kesepakatan kita batal, anda saya gugat dan aset kalian akan saya sita.”
Bagi sebagian orang, sikap gue dan sikap teman gue tadi tampak berlebih atau arogan. Namun kami selalu didoktrin agar melindungi harkat dan martabat klien kami di depan lawan. Kami melakukan hal tersebut bukan karena kami menempatkan diri sebagai prinsipal, namun kami melindungi klien kami dari penghinaan dan direndahkan harkat dan martabatnya oleh lawan.

The Stress Lawyer

Penulis adalah seorang lawyer muda di Jakarta, punya cita-cita menjadi seorang akademi dan terkadang tersesat dalam imajinasi sendiri.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *