DI BALIK SOSOK BERKUASA

Sumber: Di Sini

Sumber: Di Sini

Sudah dua hari ini alam raya media sosial ramai memperbincangkan mengenai dedek Sonya, anak SMU dari Medan yang mencoba nge mop seorang polisi wanita (polwan) saat diberhentikan karena melakukan aksi pawai usai ujian nasional. Yang menjadi menarik adalah, si adik cantik ini mengaku-ngaku sebagai anak seorang Jenderal Polisi yang juga mantan Kapolda di sebuah provinsi di Sumatera.

Tak menunggu lama, video adu mulut dirinya dengan si kakak polwan menjadi viral dan diposting oleh ribuan orang di tanah air. Bahkan media sebonafit detik.com tak ketinggalan mengupdate berita tentang si adek yang satu ini.

Hujatan pun berpanjang-panjang di sosial media milik si adek SMA, belum lagi komentar-komentar pedas di setiap artikel yang diposting di media online. Jujur, sikap si si adek SMA ini jelas-jelas menunjukkan arogansi dan kesombongan. Tampak dirinya mencoba mengintimidasi orang lain dengan berlindung di balik sosok yang dekat dengan kekuasaan.

Namun sebenarnya jika kita lihat kenyataan di lapangan, si adek SMA ini bukanlah satu-satunya yang bersifat arogan. Mungkin masih ingat kejadian dua tahun lalu, seorang mahasiswa yang mencoba menerobos jalus transjakarta dan menunjukkan kartu nama Kapolri untuk mengintimasi petugas transjakarta.

Ternyata jika kita jujur, sikap seperti itu bukan saja hanya ditunjukkan si adek SMA dan si mahasiswa. Mungkin hampir semua kita juga pernah melakukan itu. Hanya saja saat itu kita tidak melakukannya di depan kamera, ataupun orang yang kita hadapi tidak memperpanjang masalah ini.

Mungkin telah menjadi budaya kita untuk selalu berlindung di balik figur-figur kekuasaan atau setidaknya sosok yang dekat dengan kekuasaan. Sebagian besar dari kita pasti merasa senang bila memiliki koneksi pada orang-orang yang memiliki power. Karena menurut pandangan umum, semakin banyak figur dalam kekuasaan yang kita kenal, semakin aman lah hidup kita.

Saya pribadi sering mengalami hal-hal seperti ini. Tak jarang ada orang yang datang ke kantor kami dengan lagak arogan sambil mengaku-ngaku sebagai saudara dekat owner kantor kami. Namun gue tidak pernah takut jika hanya digertak dengan mencatut nama si bos.

Kembali kepada hal kecil, seperti mencoba untuk meloloskan diri dari razia maupun pemeriksaan polisi lainnya. Bagi kita yang tidak punya koneksi pada orang penting di republik ini, tentunya jurus pertama kita adalah “merengek-rengek” kepada petugas dengan harapan bisa lolos dari sanksi. Jika memiliki koneksi, tinggal catut sana sini, lalu bereslah segala urusan.

Belajar dari kasus-kasus yang seperti ini, ada baiknya kita bersikap lebih bijak sana dalam bertindak. Perkembangan teknologi informasi saat ini jelas tidak dapat lagi dibendung oleh tangan-tangan kecil kita. Mungkin kesalahan kecil yang kita perbuat bisa menjadi trending topic bagi orang lain.

Namun meskipun demikian, sebagai orang yang tidak selamanya hidup dalam aturan yang benar, ada baiknya kita tidak menghakimi seseorang lebih dari takarannya. Karena kadang saya miris juga membaca komentar-komentar pedas orang-orang, seolah-olah dirinya tak pernah melakukan kesalahan.

The Stress Lawyer

Penulis adalah seorang lawyer muda di Jakarta, punya cita-cita menjadi seorang akademi dan terkadang tersesat dalam imajinasi sendiri.

Mungkin Anda juga menyukai

2 Respon

  1. academic IND berkata:

    kekuasaan adalah sebuah ujian yang sering melupakan kekuasaan Tuhan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *