MAY DAY: SEBUAH PERENUNGAN UNTUK KITA

Sumber Gambar: http://allindiaroundup.com

Tanggal 1 Mei setiap tahunnya dirayakan sebagai hari buruh internasional (May Day). Di Indonesia sendiri, hari buruh ditetapkan sebagai hari libur nasional sejak tahun 2014 oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Namun perlu diingat bahwa peringatan hari buruh di Indonesia telah dilakukan jauh sebelum Presiden SBY menetapkannya sebagai hari libur nasional.

Jika diruntut dalam perjalanan sejarahnya, hari buruh di Indonesia telah dirayakan sejak orde lama berkuasa. Namun bergantinya rezim orde lama ke orde baru, perayaan hari buruh menjadi ditiadakan. Stereotype yang mengidentikkan gerakan buruh dengan komunis menjadi alasan utama pelarangan peringatan hari buruh. Bahkan pada masa orde baru, perayaan hari buruh bisa dikategorikan sebagai bentuk subversif kepada kekuasaan negara.

Tapi jaman telah berganti. Tembok kekuasaan yang selama ini menghalangi kebebasan berpendapat telah diruntuhkan. Negeri ini berjalan sesuai dengan konstitusi dan kebebasan berpendapat yang dijamin oleh undang-undang. Maka dengan jaminan itu pula, para buruh kembali mendapatkan hak suara nya untuk menuntut hak-hak mereka sebagai pekerja.

Tak kita pungkiri, nasib buruh di negeri ini memang sebagian besar masih jauh dari sejahtera. Mengapa saya katakan sebagian? Karena kenyataannya sebagian lainnya sudah mendapatkan kesejahteraannya. Pengalaman saya sebagai lawyer yang telah menangani berbagai sengketa perburuhan (meskipun istilah buruh sudah mulai dihilangkan dengan sebutan tenaga kerja), banyak pelanggaran-pelanggaran yang telah dilakukan oleh Pengusaha dalam memberikan hak-hak para pekerja. Tentu hal tersebut sangat bertentangan dengan amanat Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan.

Setiap tahunnya, ribuan buruh akan turun ke jalan, menyuarakan apresiasinya. Tuntutan hak menjadi tuntutan utama yang menjadi agenda tahunan. Tak hanya dilakukan pada peringatan hari buruh internasional, namun pada hari biasa, mereka juga terkadang melakukan aksi turun ke jalan, terlebih ketika pemerintah sedangan merumuskan besaran Upah Minimum Provinsi.

Bagi saya pribadi, selama saya bekerja dan mendapat upah dari orang lain, saya sadari posisi saya adalah buruh (pekerja), jadi saya berada pada posisi yang sama dengan teman-teman buruh yang sering turun ke jalan. Namun harus saya akui bahwa seringkali aksi buruh kita tidak mendapatkan tempat di hati masyarakat pada umumnya, karena lebih sering aksi buruh juga menggangu kepentingan orang banyak. Pemblokiran jalan dan perusakan fasilitas umum, menjadi hal rutin yang terjadi.

Tentu kita ikut bersimpatik dengan rendahnya upah di negeri ini, belum lagi kesejahteraan pekerja berupa cuti, upah lembur, asuransi dan bonus yang terkadang ditilep oleh oknum pengusaha serakah. Tetapi segala bentuk perjuangan terhadap penuntutan hak yang malah melanggar hak orang lain tentu juga tidak dibenarkan. Belum lagi tuntutan sebagian buruh yang terkadang di luar kenalaran.

Banyak pandangan nyinyir yang selalu diarahkan kepada aksi buruh di negeri ini. Seringkali kita mendengar, “Jika ingin kaya jangan jadi buruh”. Atau, “pendidikan pas-pasan tapi pengen di gaji tinggi?” Ada yang salah dengan istilah itu? Tidak juga, memang benar, jika memang ingin kaya, kita tidak bisa memaksa orang lain untuk membayar kita lebih.

Apalagi masih banyak buruh kita yang belum mempunya skill yang memadai untuk dunia kerja yang tersedia saat ini. Zaman semakin berkembang, laju kemajuan teknologi turut mengimbanginya. Bagi pekerja yang masih terseok-seok untuk mengikutinya perlahan-lahan akan tersingkir, sehingga pemutusan hubungan kerja massal menjadi semakin sering terjadi.

Perlu dipikirkan pula, kenaikan upah sama dengan kenaikan ongkos produksi, yang berimbas kepada kenaikan harga barang yang kemudian membuat biaya hidup semakin tinggi. Sebenarnya kenaikan upah bukan lah satu-satunya solusi bagi kesejahteraan buruh. Paling tepat adalah tanggung jawab pemerintah untuk menekan inflasi sehingga harga barang di pasaran menjadi turun, sehingga buruh dapat menyisihkan sebahagian upahnya untuk hal lain.

Sehingga dalam moment peringatan hari buruh ini, mari lah kawan-kawan buruh untuk saling merenungkan. Pengusaha tanpa pekerja tak ada gunanya, begitu juga sebaliknya. Karena hubungan pengusaha dan pekerja adalah hubungan timbal balik yang saling membutuhkan. Upah layak itu adalah wajib, namun harus diimbangi dengan kualitas kerja yang memadai. Hentikan aksi-aksi anarki, buat lah tuntutan yang logis dengan data-data yang valid agar pemerintah dan pengusaha tidak berkelit. Berhenti menuntut hal-hal yang aneh, karena akan dijadikan lelucon oleh masyarakat. Mari membangun sinergi antara Pemerintah, Pengusaha dan Pekerja.

Selamat hari buruh internasional..!!!

The Stress Lawyer

Penulis adalah seorang lawyer muda di Jakarta, punya cita-cita menjadi seorang akademi dan terkadang tersesat dalam imajinasi sendiri.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *