HARI PENDIDIKAN NASIONAL, DELUSI DUNIA PENDIDIKAN ANAK NEGERI

Sumber Gambar: www.impatientoptimists.org

Hari lahirnya Raden Mas Soewardi Soerjaningrat atau lebih dikenal sebagai Ki Hajar Dewantoro telah diabadikan sebagai Hari Pendidikan Nasional. Beliau dianggap sebagai salah satu tonggak pendidikan di negeri ini, dimulai dengan pendirian sekolah Taman Siswa, yakni sekolah pribumi pertama yang berdiri di Hindia Belanda.

Filosofi Tut Wuri Handayani yang memiliki makna “Yang di belakang memberikan dorongan”, telah diadopsi sebagai semboyan dunia pendidikan di Indonesia. Kemudian setelah Indonesia merdeka, oleh Presiden Soekarno, beliau dilantik sebagai menteri pendidikan Republik Indonesia yang pertama.

Melihat jasa-jasa beliau yang begitu besar dalam merintis pendidikan bagi anak bangsa ini lah, maka tanggal lahirnya yakni 2 Mei ditetapkan sebagai Hari Pendidikan Nasional. Meskipun tidak dijadikan sebagai hari libur nasional, namun setiap tahunnya, dirayakan dengan upacara bendera oleh anak sekolah dan lembaga pendidikan lainnya.

Biasanya dalam upacara peringatan ini, pembina upacara akan memberikan amanat dengan membacakan amanat menteri pendidikan atau bahkan Presiden Republik Indonesia. Sejauh yang bisa saya ingat, bahwa kebanyakan isi amanat tersebut adalah bagaimana kemajuan pendidikan di negeri ini, tentang sejumlah prestasi yang diperoleh oleh beberapa orang siswa Indonesia dalam even internasional dan segala hal yang baik lainnya.

Namun pernah kah kita menyinggung mengenai pendidikan anak bangsa di sudut-sudut negeri yang mungkin jauh dari moncong kamera media. Atau mungkin diketahui namun terlalu gengsi untuk mengakuinya.

Saya berangkat dari sebuah sekolah dasar yang hampir tutup, dengan tenaga guru hanya 3 orang guru PNS dan dibantu dengan 2 orang guru honorer. Setiap tahunnya jumlah siswa yang mendaftar tidak pernah lebih dari 15 orang. Mungkin anda bisa membayangkan seperti gambaran Sekolah Laskar Pelangi.

Kondisi itu terjadi bertahun-tahun yang silam. Dulu aku merasa bahwa kondisinya mungkin sudah berubah, namun nyatanya hingga sekarang belum. Saya teringat dengan cerita beberapa teman yang menjadi relawan Indonesia Mengajar dan Program Sarjana Mengajar. Bagaimana mereka menggambarkan kondisi pendidikan di daerah-daerah pedalaman yang selama ini seolah-olah tidak pernah diketahui keberadaannya oleh Pemerintah maupun masyarakat perkotaan.

 Gedung sekolah yang tidak ada, tenaga guru yang tidak memadai, pendistribusian buku ajar yang tidak merata dan lain sebagainya. Namun ternyata permasalahan pendidikan negeri ini tidak hanya itu. Maraknya korupsi di dunia pendidikan juga sudah menjadi hal yang semakin terkuak ke permukaan seolah tak ada lagi tabu bagi para pendidik untuk terang-terangan melakukan tindakan korupsi.

Belum lagi biaya pendidikan yang semakin tinggi. Bayangkan saja, seorang anak yang akan masuk sekolah dasar, harus membayarkan uang pangkal kurang lebih 5 juta dan uang SPP dari ratusan hingga jutaan rupiah setiap bulannya. Alasannya selalu untuk menjamin kualitas pendidikan yang akan didapatkan si anak.

Pertanyaannya, jika pendidikan berkualitas harus didapatkan layaknya sebuah barang mewah, lalu masih mungkinkan orang miskin mendapatkan pendidikan berkualitas? Padahal tolak ukur kemajuan satu bangsa salah satu indikatornya adalah kualitas pendidikan dan intelektual masyarakatnya.

Jadi jika pada tanggal 2 Mei setiap tahunnya dirayakan dengan euforia dan kemegahan palsu, maka hal itu tak lain adalah ilusi dan delusi yang seolah-olah dibuat nyata untuk mengelabui masyarakat. Pada akhirnya siapa yang akan dirugikan? Tentunya masyarakat itu sendiri. Dengan menurunnya kualitas pendidikan anak bangsa, maka suatu saat negeri ini akan dipenuhi dengan generasi-generasi tak terdidik yang akan menghancurkan bangsa ini dari dalam.

Bangkitlah dunia pendidikan Indonesia. Bersihkan dunia pendidikan dari praktik korupsi, kolusi dan nepotisme. Pendidikan adalah hak semua anak bangsa. Pemerataan pembangunan pendidikan baik sarana maupun prasarana harus merata dari Sabang sampai Merauke. Agar tiba waktunya kita untuk menyamakan langkah dengan laju negara-negara maju lainnya, sebagai suatu bangsa yang besar dan bermarbat.

The Stress Lawyer

Penulis adalah seorang lawyer muda di Jakarta, punya cita-cita menjadi seorang akademi dan terkadang tersesat dalam imajinasi sendiri.

Mungkin Anda juga menyukai

2 Respon

  1. Agustine berkata:

    Pendidikan harusnya memang mudah untuk di dapatkan oleh setiap anak Indonesia, bukan hanya untuk anak orang berada saja, namun kenyataannya, pendidikan di Indonesia masih terbatas dengan kualitas yang tidak merata. Harus ada perbaikan untuk membangun pendidikan yang berkualitas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *