MENCURI WAKTU MENIKMATI INDAHNYA LOMBOK

Pantai Tanjung Ann

Sebagai seorang lawyer, gue gak melulu harus duduk di balik meja, menyusun berkas-berkas buat persidangan, lalu berangkat ke pengadilan. Ada kalanya seorang lawyer dituntut untuk selalu mengupgrade pengetahuannya dengan mengikuti berbagai event maupun pelatihan-pelatihan untuk nambah-nambah ilmu hukumnya.

Bagi sebagian lawyer, kegiatan macam ini sangat membosan kan. Memang iya kalo kegiatannya cuma di seputaran jakarta, tapi kalau di luar jakarta atau bahkan di luar negeri? Beda cerita dong. Nah, pelatihan dan kegiatan yang di luar kota ini yang sering dimanfaat kan oleh sebagian lawyer untuk sekalian jalan-jalan. Tentu utamanya jangan sampai dilupakan dong ya. Tapi gak salah juga kan sambil menyelam, mimi-mimi ganteng.. hahaha

Bulan februari kemaren, gue dapat kesempatan untuk mewakili kantor gue bersama dengan 3 orang lawyer lainnya untuk mengikuti Asia Pacific Mediator Forum (APMF) yang dilaksanakan di Lombok, Nusa Tenggara Barat. Bagi gue sendiri, ke Lombok ini adalah perjalanan ketiga, meskipun udah dua kali gue ke sini, rasanya belum puas untuk mengeksplor keindahan pulau Lombok. Gue pribadi lebih suka traveling ke lombok daripada ke Bali.

Sayangnya, karena tujuan utamanya memang untuk konferensi, semuanya pada lupa untuk membawa kamera. Yah minimal pocket kamera lah. Pada akhirnya pilihan satu-satunya adalah memaksimalkan penggunakan kamera handphone. Mudah-mudahan tidak ada moment indah yang terlewatkan.

Bandar Udara Internasional Lombok

Tiba di Lombok, sayangnya musim nya masih musim penghujan. Gerimis kecil menyambut kedatangan gue dan teman-teman, walaupun udah hujan, udaranya tetap panas. Nah kebetulan yang berangkat dari Jakarta hanya kami bertiga, satu orang lagi, direktur kantor gue berangkatnya dari Bali, karena ada urusan terlebih dahulu di sana.

Baru juga mendarat, pak Direktur mengkonfirmasi bahwa penerbangannya dari Bali delay kurang lebih 1 jam. Berarti kita masih punya waktu kurang lebih 2,5 jam. Bosan juga kalau harus menunggu di bandara, mati gaya dan tidak tahu harus ngapain.

Otak gue langsung mutar, gue ngusulin ke teman-teman untuk mutar-mutar sambil nunggu pak Direktur. Nanya ke driver yang jemput kita, ada gak tempat wisata dekat sini? Mikir bentar doi, “Oh ada bang, mau ke mana? Desa Sasak, Sentra Kerajinan Tenun Lombok, atau ke mana?”

“Pantai Kuta dekat sini gak?” Tanya gue. “Kuta mah di bali.” Kata kawan gue sok tau. “Ada bang pantai Kuta di sini.” Sahut si driver. “Dekat lagi.”

OK kita meluncur ke sana. Jadilah kami berangkat ke pantai Kuta untuk menuntaskan penasaran gue, yang sebelumnya udah 2 kali gagal berkunjung ke Pantai Kuta Lombok. Gue penasan sebagus apa sih pantai ini.

Perjalanan ke sana memang tidak terlalu jauh, namun kondisi jalannya masih kurang terawat, untungnya lalu lalang kendaraan tidak begitu ramai, sehingga tidak perlu takut menghadapi kemacetan. Maklum, di jakarta setiap hari mabok menghadapi macet.

Kurang lebih 15 menit, tiba lah kami di sebuah pantai yang sepi nan indah. Ini yang gue suka. Pantainya masih bersih dan wisatawannya tidak begitu ramai, mungkin karena bukan musim liburan kali ya. Belum lagi cuaca yang selalu mendung mungkin membuat orang malas untuk ke pantai.

Lawyer yang baik adalah lawyer yang selalu bisa dihubungi oleh Kliennya meskipun lagi senang-senang.. hahahaha

Yang menarik dari pantai ini adalah, bukit-bukit kecil yang ada di bibir pantai, jadi kita bisa memandang ke seluruh penjuru pantai dari atas bukit tersebut. Juga menurut si driver, hari biasanya di pantai ini, kita bisa menyewa kuda dan menungganginya sampai ke tengah, tapi hari ini pantainya kosong melompong. Perasaan gue seperti yang punya pantai aja. hahahaha

Kalau bukan karena mengingat harus menjemput di pak direktur di bandara, mungkin gue sudah mendirikan tenda di tempat ini dan tinggal untuk beberapa hari. Namun tugas kantor harus menjadi prioritas. Sayang sekali langitnya mendung siang itu. Jadi tidak bisa melihat betapa birunya langit sambil mengenang diri mu yang jauh di sana ;( (ehh malah baper…)

Di atas bukit kecil ini, juga terdapat sejumlah batu-batu besar yang sengaja disediakan oleh sang Pencipta untuk tempat beristirahat yang terkadang di pakai untuk duduk oleh para wisatawan. Gak apa sih kalo cuma diduduki, asal jangan dicoret-coret ya guys…

Duduk Manis Sambil Difoto

Kemudian, driver kembali mengajak kami untuk melanjutkan perjalanan ke pantai Seger yang tidak jauh dari pantai Kuta Ann. Di pantai ini juga ditemui tebing-tebing yang dapat didaki oleh para wisatawan. Di pantai ini pada tanggal 26 Februari akan diadakan Festival Bau Nyale yang terkenal.

Festival Bau Nyale setiap tahunnya dilaksanakan di lokasi ini (Pantai Seger)

Festival ini dilakukan setiap tahun, yang mana masyarakat lombok akan berbondong-bondong ke pantai untuk berburu cacing Nyale, yang katanya hanya ada pas Festival Bau Nyale ini dilaksanakan. Nyale sendiri berasal dari bahasa Sasak, yang artinya cacing laut. Menurut kearifan lokal setempat bahwa  Nyale ini adalah penjelmaan dari rambut Putri Mandalika. Seorang putri Raja yang mengorbankan dirinya untuk mencegah peperangan antar 2 kerajaan yang memperebutkan dirinya.

Putri Mandalika yang Jelita dikejar-kejar para Fans

Sayangnya sebelum festival itu dimulai kami sudah harus pulang ke Jakarta. Di pantai ini terdapat patung yang menggambarkan Putri Mandalika dan para raja yang memperebutkannya untuk dijadikan isteri. Mungkin kita bisa mengambil hikmah dari kebajikan hati Putri Mandalika ini.

Setelah puas foto-foto yang disertai rintik-rintik hujan, akhirnya kami kembali ke bandara untuk menjemput pak Direktur. Kemudian kami meluncur ke Hotel di daerah Senggigih yang sudah kami booking sebelumnya. Namun tak afdol rasanya pergi ke suatu tempat jika tidak menikmati hidangan asli setempat.

Nah malamnya, dalam kondisi yang masih hujan rintik-rintik, kami minta diantar oleh driver untuk mencari makan malam yang khas daerah Lombok. Gue yang pecinta makanan pedas udah langsung membayangkan plecing kangkung dan ayam taliwang. Akhirnya kami memilih makan di Menega Lombok Restaurant, dan mengambil paket makan malam yang terdiri dari Plecing Kangkung, Ayam Taliwang, Sate Cumi, Sate Rembiga, Baronang Bakar, Tiram Asam Manis dan nasi putih pastinya. Tak ada kata diet dalam berwisata, tak berapa lama makanan itu pun habis hanya meninggalkan tulang-belulang tak bernama.

Maafkan gue yang kalap… lupa foto makanannya sebelum dihajar para predator

Hari berikutnya kami mengikuti rangkaian acara Konferensi, waktu luang untuk jalan-jalan hanya tersedia di malam hari, namun karena hujan mengguyur lombok satu minggu itu, acara jalan-jalan sehabis Konferensi pun batal kami laksanakan. Agenda ke Gili Trawangan dan Gili Air pun pupus sudah.

The Stress Lawyer

Penulis adalah seorang lawyer muda di Jakarta, punya cita-cita menjadi seorang akademi dan terkadang tersesat dalam imajinasi sendiri.

Mungkin Anda juga menyukai

2 Respon

  1. Seneng baca sisi lain lawyer ibukota gini.. 🙂

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *