BERBURU BUDAYA BATAK DI ASIAN CIVILISATIONS MUSEUM SINGAPORE

Asian Civilization Museum Singapore

Sebagai generasi muda batak, gue terkadang malu dengan diri gue sendiri yang tidak begitu akrab dengan kebudayaan gue sendiri. Padahal gue dari lahir sampai SMA tinggal di kampung halaman nya orang batak asli. Namun begitu lah kenyataannya, gue sadari bahwa gue mulai seperti generasi muda pada masa ini yang sudah mulai kehilangan identitas adat budaya leluhur.

Bukan karena orang tua gue gak ngajarin, tapi mungkin karena faktor gue nya yang bebal juga kali ya. Namun setidak-tidaknya gue masih fasih berbicara dengan bahasa batak dan lancar menulis dengan aksara  batak.. hahaha #pembelaandiri

Ok, memang saat gue masih tinggal di kampung dulu, seingat gue di daerah gue gak ada museum yang menyimpan artefak-artefak peninggalan leluhur gue. Mungkin di kota Medan ada, namun sayangnya gue gak pernah tinggal di medan untuk waktu yang lama. Kalo kata orang batak dulu, gue ini Batak Tembak Langsung. Untungnya sekarang sudah dibangun Museum Batak oleh bapak TB Silalahi.

Asian Civilization Museum Singapore

Waktu tahun 2014, gue berkunjung ke Singapore, kunjungan pertama gue ke luar negeri. #Norak. Salah satu tempat wisata yang gue kunjungi di sana adalah Asian Civilisations Museum Singapore. Jadi katanya, karena negara Singapore adalah pertemuan antara sejumlah suku bangsa khususnya Asia, jadi secara otomatis mereka tidak memiliki etnis asli yang bisa disebut sebagai penduduk asli. Walaupun kenyataannya Singapore zaman dulu adalah bagian dari kesultanan Malaka (katanya). Karena ketidakadaan kebudayaan asli tersebut, maka orang Singapore itu adalah orang-orang yang heterogen, yang umumnya terdiri dari etnis Melayu, Tionghoa dan India.

Bagi yang belum pernah berkunjung ke Asian Civilisations Museum Singapore ini, itu loh yang jadi tempat syutingnya film Merry Riana, waktu Chelsea Islan bekerja bagi-bagiin brosur di jalanan. #gakpenting hahahaha

Batak Sculpture From Sumatera

Di Asian Civilizations Museum ini lah dipamerkan sejumlah artefak dari berbagai suku bangsa yang ada di Asia. Mulai dari patung-patung, senjata, alat musik tradisional dan lain sebagainya. Nah ini yang sempat bikin gue terlongo dan rada malu sedikit, karena begitu gue masuk dan naik ke lantai 2, gue langsung melihat poster segede gaban yang bertuliskan “Batak Sculpture from Northern Sumatera”.

Tungkot Tunggal Panaluan = Tongkat Para Raja dan Dukun

Sejenak gue mikir, itu batak suku gue, atau batak yang lain ya? Tapi emang ada batak yang lain? Trus gue lihat ukiran yang menghiasi poster tersebut, gue yakin, ini batak suku gue maksudnya.

Tungkot Tunggal Panaluan = Tongkat Para Raja dan Dukun

Mulailah gue berkeliling, dan gue menemukan banyak artefak asli kampung gue yang dipajang di sana. Gue gak tau apakah itu artefak yang sudah berusia ratusan tahun atau hanya replika yang sengaja dibuat menyerupai aslinya. Namun kala itu gue merasa malu juga pada diri gue, masa gue harus ke kampungnya engkong Lee Kuan Yew buat belajar tentang budaya kampung gue, kan gak lucu. Dan mahal lagi.

Losung = Lesung

Hasapi (Alat Musik Petik dari Tanah Batak) dan Piso (Pisau)

Untungnya, di kampung gue sudah dibangun Museum Batak, lagi-lagi gue bersyukur, agar kelak generasi muda seperti gue gak lagi jauh-jauh ke kampung orang untuk belajar kampung sendiri.

The Stress Lawyer

Penulis adalah seorang lawyer muda di Jakarta, punya cita-cita menjadi seorang akademi dan terkadang tersesat dalam imajinasi sendiri.

Mungkin Anda juga menyukai

2 Respon

  1. Togar Silaban berkata:

    Baguslah,
    Orang muda harus banyak melihat, mengamati, mempelajari, menganalisis, mencerna, lalu kemudian berbuat sesuatu yang baik dan benar. Tidak perlu merasa malu, yang penting ada usaha untuk menggali budaya sebanyak-banyaknya. Di pudian ni ari sai adong do guna na.
    Horas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *