PENAMPILAN ITU PENTING

Ada sebuah adagium yang mengatakan “don’t judge the book by the cover”. Ungkapan ini ditujukan agar kita tidak boleh memandang suatu permasalahan dari kulitnya saja. Namun ada pula yang menggunakan ungkapan ini sebagai legitimasi penampilan seseorang.

Di awal karir gue sebagai seorang lawyer, gue udah pernah ketemu dengan seorang lawyer yang sudah cukup berpengalaman, sambil teriak menyentil begini, “Apaan tuh lawyer-lawyer berjas dan berdasi itu. Gue berani tantang mereka untuk debat ama gue. Penampilan tidak menunjukkan isi otak.”

Gue perhatikan tampilan si kawan, pake polo shirt buduk, celana jeans belel dan sepatu sport kotor. Sumpah, gue gak bohong, yang paling gak bikin gue gak betah lama-lama di sampingnya, aromanya coy. Bau ikan asin. Maaf, gue bukan bermaksud menjelekkan rekan sejawat gue.

Waktu itu kebetulan diskusi antar beberapa lawyer. Gue sebenarnya ngerti tudingan si kawan tadi ditujukan kepada siapa. Namun karena kebetulan saat itu gue pake jas dan dasi, panas juga kuping gue. hahaha

Bos gue selalu bilang, “Meskipun lo Lawyer di LBH, lo harus tampil dengan baik. Meskipun klien lo orang miskin, tapi lo gak boleh tampil gembel, agar lawan-lawan mu tidak memandang rendah klien mu.” Gue sepakat boss.

Makanya di kantor gue, semua lawyer pria diwajibkan menggunakan kemeja lengan panjang dan dasi yang diserasikan dengan paikaian. Lebih baik lagi jika ditambah dengan stelan jas atau blazer. Begitu juga dengan lawyer wanita harus menyesuaikan tampilan.

Dan gue pribadi punya banyak pengalaman masalah penampilan ini. Dalam berbagai forum yang gue dan teman-teman gue ikuti, tak jarang banyak yang berkomentar, “wah lawyer-lawyer LBH penampilannya selalu yang paling Ok.” Dan gue ingat banget waktu mengikuti Asia Pacific Mediator Forum di Lombok, ada seorang ketua Pengadilan Negeri yang ingin bertemu dengan delegasi kami. Kemudian bertanya ke panitia. Oleh panitia, memberikan petunjuk yang cukup menggelikan menurut gue. “Oh cari aja orang-orang yang pake jas dan rambut klimis. Itu mereka.” Ketemu.. hahahaha

Gue sepakat, bahwa tampilan tidak menunjukkan isi otak. Namun bukan kah akan lebih baik, jika kita sebagai lawyer punya otak yang smart dan penampilan yang Oke. Karena seperti boss kita di atas, kita sebagai lawyer adalah representasi dari klien, meskipun tidak boleh diidentikkan. Jangan sampai klien kita dipandang sebelah mata oleh lawan karena penampilan dan otak kita yang tidak benar.

Nah bagi para pembaca yang ingin menjadi lawyer, ingat lah selalu untuk memperhatikan penampilan. Tak harus selalu pakai jas atau dasi. Tapi lihat nilai estetikanya, dan tak perlu pula mahal untuk tampil keren.

The Stress Lawyer

Penulis adalah seorang lawyer muda di Jakarta, punya cita-cita menjadi seorang akademi dan terkadang tersesat dalam imajinasi sendiri.

Mungkin Anda juga menyukai

2 Respon

  1. kekitaan berkata:

    Setuju 100 % soal itu Mas Bro

    Nah, sayangnya anggapan rapi ga selalu jadi standar umum.
    Karena banyak pengalaman dan kisah nyata yang menjadi bukti. Kalau tampilan dan isi sering bertolak belakang.

    Contoh paling terkenal adalah Bob Sadino.

    • Bob Sadino sebelum sekaya sekarang dulu juga memperhatikan penampilan. Kalo ente masih bekerja untuk orang lain, jaga penampilan mu. tapi kalo ente udah punya segala nya, terserah ente dah..
      jangan pula ente sebagai enterpreuner pengen dapat kontrak dari sebuah perusahaan gede, trus dengan gaya nya (niru2 bob sadino biar anti mainstream) datang pake celana pendek mirip hot pant sama sandal jepit. yakin gak ente diterima?

      jadi gitu boss. ane bilang penampilan penting bukan berarti segala nya. isi dan penampilan itu harus seimbang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *