HUKUMAN MATI DALAM KEGALAUAN

Sumber Foto: http://defimedia.info/

Pagi dini hari tadi, beberapa orang terpidana mati meregang nyawa di hadapan moncong senapan juru tembak Brimob. Dapat gue bayangkan penantian mereka hingga ajal menjemput di depan mata. Setiap manusia tak akan pernah tahu kapan mereka mati dan bagaimana mereka mati. Namun dengan cara yang seperti ini setidaknya mereka tahu bagaimana akhir dari masa hidupnya.

Eksekusi yang dilakukan dini hari tadi, adalah eksekusi tahap ketiga sejak presiden Joko Widodo menjabat. Secara pribadi gue menentang hukuman mati, namun gue gak bisa juga menyalahkan Presiden, Jaksa Agung, menteri hukum dan HAM serta pejabat lainnya atas eksekusi yang telah dilakukan. Wong secara legalitasnya, hukuman mati masih dianut dalam sistem hukum kita.

Namun meski pun demikian, gue selalu galau jika menjelang pelaksanaan hukuman mati dilakukan. Bukan karena gue punya teman atau saudara yang akan maupun yang pernah dihukum mati. Tapi kembali lagi pada bayangan detik-detik mereka menyongsong kematian.

Menurut gue, tak ada beban yang lebih berat yang dapat ditanggung oleh manusia, selain menunggu detik-detik kematiannya. Meskipun mereka mengatakan, bahwa telah iklas dan rela, namun tentu ketakutan itu selalu ada.

Tapi gue pahami diri gue, tak mungkin juga gue teriak-teriak di luar sana agar hukuman mati dihapuskan, sementara di luaran sana masih banyak psikopat, gembong narkoba dan teroris yang berkeliaran. Ini lah kegalauan gue terhadap hukuman mati. Di satu sisi, gue sungguh sangat menentang jenis hukuman yang satu ini, namun gue bingung jenis hukuman apa yang bisa diberikan kepada para pelaku kejahatan yang luar biasa itu.

Gue selalu berharap, suatu saat nanti, penegakan hukum di negeri ini semakin jelas dan beradab. Kehidupan masyarakat pun semakin sejahtera hingga angka kejahatan semakin berkurang. Dan tentunya manusia semakin sadar bahwa kehidupan itu adalah sangat berharga.

The Stress Lawyer

Penulis adalah seorang lawyer muda di Jakarta, punya cita-cita menjadi seorang akademi dan terkadang tersesat dalam imajinasi sendiri.

Mungkin Anda juga menyukai

1 Respon

  1. kekitaan berkata:

    Salam Bang Bro

    Hah, yang udah diputuskan dapat “jatah mati” pasti ga galau.
    Sayangnya kita yang jadi penonton dan pemutus jatah cuma bisa merasa, mengkhayal, berdoa, dan galau.

    Lalu, kadang bingung sih apakah ungkapan “Tuhan yang menentukan hidup mati orang”, masih berlaku?

    Jangan-jangan cuma pencitraan “nilai keagamaan”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *