LAWYER KOK BAPER-AN?

Sumber Gambar: http://majalahouch.com/

Sebenarnya ini bukan pengalaman gue, tapi pengalaman junior gue di kantor saat bersidang di pengadilan. Sebelumnya gue udah pernah nulis pengalaman yang mirip seperti apa yang dialami oleh junior ini (Baca: NO HARD FEELINGS).

Gue gak habis pikir, masih ada aja oknum lawyer yang belum bisa bersikap profesional. Apalagi lawyer yang ribut dengan junior gue ini mengaku sebagai lawyer senior dan profesional. Namun sayangnya, sikapnya tidak menunjukkan betapa profesional dirinya.

Jadi ceritanya, teman gue sidang pemeriksaan saksi di pengadilan. Teman gue sebagai kuasa hukum Penggugat dan si lawyer ini adalah kuasa hukum Tergugat. Adalah hal yang wajar di ruang sidang, “bantai membantai” itu dilakukan. Apalagi jika saksi yang dihadirkan lawan tidak mengerti perkara, bakal menjadi “makanan” empuk untuk dibantai.

Selain itu pula, perang psikis juga tak jarang terjadi di ruang sidang. Misalnya saat kita mengajukan pertanyaan, lawyer lawan mengajukan keberatan, atau terkadang melakukan tindakan-tindakan yang mencoba untuk memprovokasi. Hal-hal tersebut sangat wajar terjadi di ruang sidang.

Gue salut kepada senior-senior advokat yang bisa perang adu urat di ruang sidang, namun begitu sidang ditutup, salam-salam dan tertawa bersama. Benar-benar profesional menurut gue.

Nah, kembali lagi ke kasus yang dialami oleh junior gue ini. Menurut junior gue, mereka beberapa kali mengajukan keberatan atas pertanyaan dari si lawyer lawan, karena pertanyaan yang bersifat menyimpulkan. Secara hukum pertanyaan yang demikian jelas dilarang, tak hanya itu, pertanyaan yang bersifat memojokkan dan memberatkan saksi juga sangat di larang. Jadi menurut gue, jika junior gue mengajukan keberatan, ya sah-sah saja.

Ternyata tidak demikian dengan si lawyer yang satu ini. Begitu keluar ruang sidang, dia marah-marah sambil memaki junior gue dengan bahasa yang tidak layak disebutkan. Mendengar cerita junior gue ini, awalnya gue panas juga, pengen ngelaporin itu lawyer ke dewan kehormatan Advokat. Sebegitu rendahnya jiwa officium nobille yang dimiliki si kawan ini.

Namun gue kembali berfikir, ya sudah lah ya. Setidaknya junior gue sudah menang beberapa poin dari si klien gue. Junior gue aja tidak kepancing amarahnya.

Sebenarnya ini lah yang menjadi satu perenungan gue. Masih banyak lawyer-lawyer baper di luar sana. Pangkalnya di mana gue gak pernah tahu. Tapi ahh sudah lah, yang penting gue mencintai profesi ini dan gue jalani seprofesional mungkin. Lawyer kok baper-an sih…

The Stress Lawyer

Penulis adalah seorang advokat muda yang bercita-cita sebagai seorang dosen, dan sering tersesat dalam khayalan.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *