PETUALANGAN ALAM LIAR ALA UJUNG KULON Part. 1

Pintu Masuk Tanjung Layar

 Berkutik dengan berkas-berkas dan perkara, lama-lama otak bisa stress dan bingung sendiri. Akhirnya gue memutuskan setidak-tidaknya satu kali dalam tiga bulan gue harus trip. Tak perlu jauh-jauh, yang penting menyenangkan dan semua kepenatan bisa dihilangkan.

Jadi, Oktober tahun 2016 yang lalu, gue ikut trip ke Ujung Kulon. Gue cukup exited mengikuti trip yang satu ini. Jaman gue masih kecil dulu, Ujung Kulon hanya gue baca di buku IPS atau geografi, sebagai salah satu taman nasional tertua di Indonesia. Ujung Kulon juga terkenal sebagai satu-satunya habitat asli dari badak jawa yang keberadaannya sudah sangat terancam.

Jumat malam, gue berangkat ke Plaza Semanggi sebagai meeting poin peserta trip. Sebetulnya peserta trip adalah teman-teman gue juga yang pernah ikut trip di Pahawang (Baca: Trip Pahawang: Indonesia Selalu Punya Keindahan Untuk Diceritakan), jadi sebenarnya tak perlu waktu lama untuk mengakrabkan diri dengan mereka.

Jam 11 malam bus yang membawa kami pun berangkat meninggalkan Jakarta menuju Sumur. Sepanjang jalan gue tertidur, pokoknya gue taunya subuh-subuh sudah tiba di Sumur. Oke kita siap berangkat.

Rencananya kami akan menginap di Resort yang ada di Pulau Peucang, namun karena kebijakan yang baru, penginapan di Pulau Peucang katanya sudah tidak bisa dibooking, jadi sistemnya harus booking ditempat untuk hari itu juga. Jadi kami berangkat pagi-pagi untuk mendapatkan penginapan di sana, yang katanya tidak pernah sepi. Perjalanan memakan waktu kurang lebih tiga jam. Ombak cukup besar, namun menuruk ABK, ombak tersebut masih wajar dan tidak berbahaya. Kapal kecil kami terombang ambing membelah deburan ombak yang terkadang membuat kami basah kuyup, belum lagi gerimis kecil yang mulai turun.

Sarapan di atas kapal, nikmat nya ratusan kali lipat

Angin laut dan goncangan ombak membuat ku mengantuk, hingga akhirnya gue putuskan untuk tidur lagi. Padahal awalnya gue mau mancing di perjalanan. Tak terasa perjalanan sudah 2 jam, dan gue terbangun. Kita sarapan di atas kapal. Nasi bungkus dengan menu nasi uduk, tempe orek dan telor balado terasa seratus kali lipat lebih nikmat, karena selain lapar, pemandangannya seolah-olah merangsang nafsu makan kami menjadi lebih brutal dari yang sebelumnya.

Dermaga Pulau Peucang

Dermaga Pulau Peucang

 

Pulau Peucang telah di depan mata, beberapa kapal telah merapat di dermaga. Sedikit waswas, tidak kebagian tempat untuk menginap. Ternyata nasib kami cukup baik. Kami mendapatkan sebuah rumah panggung untuk tempat menginap. Tak berselisih jauh dari kami, serombongan besar orang datang dan tidak kebagian tempat, hingga akhirnya mereka menginap di Pulau Handeleum dan sebagian lagi menginap di kapal.

Babi Hutan Bernama Dora

Rusa Yang Berkeliaran Dengan Bebas

Monyet Di Sini Suka Nyolong Loh..

Setelah puas bermain, akhirnya makan siang tersedia. Lagi-lagi menu nya cukup sederhana, namun rasa nya menjadi berkali-kali lipat karena makan di pantai dengan pemandangan laut dan angin pantai yang sepoi-sepoi. Habis makan, kami bersiap berangkat menuju tanjung layar. Menurut guide yang menemani kami, tanjung layar ini menjadi ujung barat Pulau Jawa. Jadi moncong pulau jawa yang biasa kita lihat di Peta adalah Tanjung Layar ini.

Dari Peucang hanya memakan waktu 15 menit. Kapal tidak bisa bersandar hingga ke pantai, karena banyak karang di bibir pantai. Ada 2 alternatif untuk menuju ke pantai nya, pertama nyebur trus berenang atau naik sampan. Gue yang gak bisa berenang tentunya memilih naik sampan. Sebenarnya gue rada galau juga, kata guide nya di sini spot mancing nya lumayan bagus, banyak ikan-ikan karang yang bisa dipancing di sana.

OTW Tanjung Layar

Tanjung Layar

Tanjung Layar

Mercusuar Tanjung Layar

Di tanjung Layar terdapat mercusuar aktif yang memandu kapal-kapal yang melewati samudera Hindia. Sayang nya kami tidak bertemu banteng di sana, yang ada hanya sisa-sisa kotorannya. Namun pemandangan di tanjung Layar membuatku sedikit terhibur. Di tanjung Layar kita bisa memandang langsung ke Samudera Hindia. Ombaknya cukup tinggi menghempas karang-karang di sana. Meskipun tidak bisa berenang dan memancing, tapi untuk yang satu ini gue acungin jempol.

(Lanjut ke Part.2 : BELAJAR KEARIFAN LOKAL DAN BERKENALAN DENGAN PENGHUNI UJUNG KULON)

The Stress Lawyer

Penulis adalah seorang advokat muda yang bercita-cita sebagai seorang dosen, dan sering tersesat dalam khayalan.

Mungkin Anda juga menyukai

1 Respon

  1. Januari 26, 2017

    […] PETUALANGAN ALAM LIAR ALA UJUNG KULON Part. 1 […]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *