MARI BERSAMA-SAMA MENJAGA INDONESIA

Sumber Gambar: https://rhyantd.files.wordpress.com/2015/11/sumpah-pemuda3.jpg

Pasca dilaksanakannya pemilihan presiden Republik Indonesia tahun 2014, kemudian dilanjutkan dengan pergelaran Pilkada DKI tahun 2017, sedikit banyak di tengah masyarakat kita terjadi pertentangannya. Muncul kubu-kubu bertentu yang saling menjelekkan satu sama lain. Dan sayangnya, yang mereka tunjukkan bukan lah wajah demokrasi yang dewasa, melainkan sikap kekanak-kanakan yang mencoreng demokrasi itu sendiri.

Isu komunisme, liberalisme dan radikalisme terpercik kemana-mana. Dilontarkan untuk mendiskreditkan satu pihak oleh pihak yang lainnya. Meski secara kasat mata, pertentangannya yang terjadi belum sampai ke titik rawan perpecahan bangsa, namun dikhawatirkan akan menjadi membesar di kemudian hari.

Pada umumnya, saya melihat pertentangan itu hanya lah eyel-eyelan semata yang dibumbui dengan gengsi tidak mau kalah. Namun sayangnya, elit politik kita malah ikut terjun memperkeruh suasana. Sehingga tiap-tiap kubu merasa percaya diri dan merasa mendapatkan dukungan politik yang kuat.

Padahal persoalan bangsa kita jauh lebih besar dari hanya sekedar mendukung calon presiden dan calon gubernur maupun kepala daerah lainnya. Kita tak bisa menutup mata, bahwa ancaman yang lebih besar sedang mengintai keutuhan bangsa ini. Kurang dalam 2 tahun, ada 4 empat kejadian yang hampir meruntuhkan keutuhan bangsa kita. Mulai dari kerusuhan pembakaran tempat ibadah di Tolikara, Bom Sarinah, Pelembaran Bom Molotov di tempat ibadah di Samarinda dan yang terakhir bom di terminal Kampung Melayu.

Kita tak dapat bersikap seolah-olah kejadian-kejadian tersebut hanyalah sebuah kecelakaan kecil yang tidak berdampak apa-apa. Tapi harus kita sadari bahwa akibatnya bisa lebih masif dan menjalar kemana-mana jika kita tak segera membendungnya.

Sebagai anak bangsa, tak sepantasnya kita menuding tanpa ditunjang bukti-bukti yang kuat mengenai peristiwa yang terjadi. Tak layak pula jika sesama anak bangsa kita saling menyalahkan. Keutuhan bangsa adalah tanggung jawab kita bersama, tidak hanya pemerintah dan jajarannya. Ingatlah, bahwa kemerdekaan bangsa Indonesia diperjuangkan oleh semua lapisan masyarakat. Mulai dari elit politik, rohaniawan, pedagang, pendidik sampai pada petani.

Pernahkah kita berfikir, seandainya pada masa pergerakan memperjuangkan kemerdekaan, para founding father kita mengedepankan egoisme pribadi, mungkinkah bangsa Indonesia akan ada pada masa ini? Bisa jadi tidak. Mungkin Indonesia yang kita kenal sekarang akan terdiri dari beberapa negara-negara kecil dengan ideologinya masing-masing.

Sekarang penjajahan dengan wajah baru kembali datang ke negeri ini untuk menancapkan kekuasaannya. Penjajahan yang dilakukan bukan oleh suatu bangsa atau negara, namun sebuah ideologi yang bertentangan dengan ideologi dasar kita yaitu Pancasila. Selama puluhan tahun kita telah membuktikan bahwa Pancasila itu sakti dan tak akan tergantinya. Mari kita singkirkan perbedaan dan tekan ego masing-masing sampai pada level yang paling rendah. Indonesia membutuhkan seluruh anak bangsa untuk mempertahankan eksistensinya.

The Stress Lawyer

Penulis adalah seorang lawyer muda di Jakarta, punya cita-cita menjadi seorang akademi dan terkadang tersesat dalam imajinasi sendiri.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *