DJAROT DALAM PILKADA SUMATERA UTARA

Sumber Foto: http://wartakota.tribunnews.com/2017/12/27/djarot-ikut-pilkada-sumatera-utara

Pilkada serentak sudah di depan mata, ada beberapa provinsi yang akan menggelar pemilihan kepala daerah, baik kepala daerah tingkat I maupun kepala daerah tingkat II. Masih belum selesai kehebohan pasca pilkada DKI Jakarta yang euforianya hampir menyamai pemilihan presiden. Apalagi dengan adanya bumbu-bumbu isu sektarian, membuat tensi politik semakin memanas.

Kali ini yang akan menggelar pesta demokrasi salah satunya adalah provinsi Sumatera Utara. Daerah asal saya tentunya, walaupun sejak beberapa tahun yang lalu secara administrasi kependudukan tidak lagi terdaftar di sana, namun saya tetap memberikan perhatian saya terkait siapa calon pemimpin yang kelak akan memimpin tanah kelahiran saya tersebut.

Isu terbaru dan terhangat adalah adanya berita mengenai PDIP yang akan mengusung H. Djarot Saiful Hidayat sebagai jagoannya di pilkada Sumut kali ini. Tentu saja tidak ada yang salah dengan hal tersebut, namun bagi saya pribadi berita tersebut cukup mengejutkan walaupun kebenarannya belum dapat dipastikan, meskipun sinyal tersebut semakin menguat dengan adanya kunjungan Djarot bersama keluarga ke danau Toba dan kota-kota di Sumatera Utara.

Awalnya saya berfikir bahwa PDIP akan mengusung Maruarar Sirait sebagai calon gubernur Sumut. Hal tersebut telah santer sejak beberapa bulan yang lalu. Bahkan beberapa orang telah mulai membentuk relawan sebagai bentuk dukungan terhadap bang Ara. Namun apa pun itu jelas PDIP masih menyimpan jagoannya. Tentu saja kita dapat melihat itu dari strategi politik PDIP yang selalu paling akhir mengumumkan jagoannya.

Entah apa pertimbangan dari PDIP (jika itu benar) mengusung Djarot di Sumatera Utara, padahal jelas kita ketahui bahwa Djarot adalah mantan Bupati Blitar selama 2 periode. Secara logika harusnya PDIP dapat mencalonkannya di daerah asalnya yaitu Jawa Timur. Namun dalam beberapa hari ini, di linimasa Facebook teman-teman sesama perantau dari Sumatera Utara memberikan tanggapan yang positif mengenai isu Djarot sebagai calon Gubernur Sumatera Utara. Hal ini cukup wajar mengingat bahwa Djarot cukup disukai oleh para pendukung Jokowi dan Ahok di Sumatera Utara, karena kita pahami bahwa Djarot adalah orang dekat dari kedua tokoh fenomenal tersebut.

Secara politis saya tidak dapat menganalisa tentang peluang Djarot memenangkan pertarungan di Sumatera Utara, apalagi bakal calon penantangnya ada Edy Rahmayadi dan JR. Saragih. Bagi para pemuja putra daerah tentu JR Saragih menjadi pilihan utama. Tetapi saya rasa hal tersebut tidak berpengaruh banyak di Sumatera Utara, hal itu dapat terlihat dengan terpilihnya Gatot Pudjo Nugroho dalam pilkada yang lalu, padahal jelas-jelas Gatot adalah putra asli magelang. Dapatkah kita katakan bahwa masyarakat Sumatera Utara sudah mulai memasuki kedewasaan dalam perpolitikan, dimana mereka dapat secara objektif melihat calon bukan subjektif. Tentu hal tersebut masih perlu diuji.

Kembali kepada fenomena hadirnya Djarot dalam bursa calon gubernur Sumut. Saya pribadi jelas tidak mempermasalahkan jika Djarot memang benar-benar ingin bertarung memperebutkan kursi gubernur Sumut. Untuk saat ini, jika calonnya hanya JR. Saragih, Edy Rahmayadi dan Djarot Saiful Hidayat. Secara jujur saya akui, pilihan saya tentu jatuh kepada Djarot dengan mempertimbangkan trackrecord beliau selama menjabat sebagai Bupati Blitar, Wagub dan Gubernur DKI Jakarta walaupun hanya dalam waktu singkat.

Jika berandai-andai, saya memiliki harapan yang sangat besar kepada Djarot untuk dapat membangun Sumut menjadi lebih baik lagi. Reformasi birokrasi harus dituntaskan terlebih dahulu dan bersamaan dengan itu pembangunan infrastruktur yang merata di seluruh Sumut juga sangat penting. Kita dapat melihat Sumut sebagai salah satu dari miniatur Indonesia, dimana masyarakat nya yang heterogen sudah membaur sejak puluhan tahun yang lalu. Dan satu hal yang harus kita banggakan dari Sumut adalah toleransinya yang tinggi, meskipun dalam tahun-tahun terakhir ada beberapa kejadian intoleran yang terjadi namun tak butuh waktu lama untuk meredamnya. Di sini menjadi tantangan bagi para calon gubernur untu dapat mempertahankan itu. Saya rasa, pahitnya pilkada DKI yang silam jangan sampai terbawa dalam pesta demokrasi di Sumut karena kita tidak ingin perpecahan terjadi di Sumut.

Bagi saya tidak penting dia putra daerah atau tidak selama hatinya untuk membawa kebaikan, saya akan mendukungnya.

The Stress Lawyer

Penulis adalah seorang lawyer muda di Jakarta, punya cita-cita menjadi seorang akademi dan terkadang tersesat dalam imajinasi sendiri.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *