KEMULIAAN PROFESI ADVOKAT

Sumber Gambar: http://www.negarahukum.com

Saya tertarik dengan sebuah status seorang teman di laman Facebooknya yang pada pokoknya dia mengatakan bahwa dia memilih profesi lawyer karena lawyer satu-satunya profesi yang dinyatakan sebagai profesi yang mulia (Officium Nobile). Benak saya tergelitik untuk merenung, benarkah profesi lawyer itu officium nobille?

Ini adalah pandangan saya sebagai lawyer. Saya berpendapat berdasarkan apa yang saya alami dan saya pahami dengan profesi yang sudah lebih dari 5 tahun ini saya geluti. Mungkin sebelumnya akan banyak yang berpendapat sumbang tentang profesi ini, hal itu saya persilahkan sebagai bentuk kebebasan berpendapat.

Kembali kepada pendapat teman saya tadi, benarkah profesi lawyer itu adalah satu-satunya profesi yang mulia/terhormat? Menurut saya tidak. Semua profesi punya kehormatan dan kemuliaannya masing-masing. Dokter mulia karena menyelamatkan nyawa dan kesehatan manusia, guru mulia karena mencerdaskan generasi muda, dan begitu juga dengan profesi lainnya.

Mungkin profesi lawyer disebut mulia karena memang secara tegas di dalam Undang-Undang Nomor 18 tahun 2003 tentang Advokat, namun bukan berarti hal tersebut memberikan hak eksklusif kepada profesi advokat menjadi satu-satunya profesi yang mulia.

Kata profesi berasal dari kata profesional, yang mengandung makna dilakukan oleh orang yang memiliki keahlian khusus di dalamnya. Namun makna profesional tidak hanya terbatas pada keahlian khusus namun adanya makna dilakukan dengan sungguh-sungguh, sepenuh hati, penuh dengan tanggungjawaban. Oleh karena itu, setiap orang yang melakukan pekerjaannya dengan baik, sungguh-sungguh dan sepenuh hati layak disebut dengan profesional. Dan secara formil sebuah profesi diberikan berdasarkan kode etik dan sumpah jabatan.

Saya berpandangan, bahwa kehormatan suatu profesi tidak terbatas pada hak yang diberikan oleh undang-undang. Pengakuan kelompok atau statetment pribadi. Tapi subjeklah yang membuat profesi itu menjadi terhormat.

Sebagai seorang advokat, sudah sejauh mana kita bersikap terhormat sesuai dengan jargon dari profesi kita yang disebut officium nobille? Bagi saya kehormatan seorang advokat tidak dapat didefenisikan secara sempit dengan model pembelaan terhadap klien. Pemberian bantuan hukum secara prodeo dan probono.

Seandainya undang-undang tidak mengikat seorang advokat dengan aturan probono dan prodeo, seberapa banyak dari rekan-rekan advokat yang bersedia memberikan bantuan hukum pro deo dan pro bono.

Seberapa banyak dari rekan-rekan advokat yang telah mencoreng profesi ini dengan sikap dan perbuatan yang tidak sesuai dengan etika moral seorang advokat? Bisa kah kita seorang advokat bersikap profesional terhadap orang yang telah menghina profesi kita? Begitu banyak pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab terkait kehormatan kita. Saya pribadi merasa berat menanggung tanggungjawab oficium nobille secara murni.

Jika saya sebagai advokat belum bisa menjadi corong kebenaran yang hakiki, maka saya meminta maaf. Namun saya punya kehormatan sendiri, menjalani apa yang saya yakini meski orang berpendapat lain. Biarlah kehormatan profesi advokat itu kita simpan di dalam hati kita tanpa kita ucapkan melalui lisan yang hanya mengundang komentar dari orang-orang yang tidak mengerti.

The Stress Lawyer

Penulis adalah seorang lawyer muda di Jakarta, punya cita-cita menjadi seorang akademi dan terkadang tersesat dalam imajinasi sendiri.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *