TENTANG PERCERAIAN GADING – GISEL

Sumber Gambar: http://www.pesona.co.id

Mungkin salah satu kabar artis terhit dalam satu minggu terakhir ini datangnya dari pasangan selebriti Gading Marten dan Gisel Anastasia, yaitu bapak mamaknya si Gempita. Entah kenapa netijen begitu heboh dengan kabar perceraian mereka, bukankah perceraian di kalangan artis Indonesia itu sudah biasa ya. Apalagi jika ditambahi dengan bumbu-bumbu seperti Vicky vs Angel Lelga. Mungkin karena selama ini netijen melihat bahwa pasangan yang satu ini cukup adem-adem saja, bahkan terlihat mesra.

Bagi saya pribadi sebagai praktisi hukum, kasus perceraian itu mah banyak di pengadilan, dengan berbagai masalah dan dramanya. Beberapa teman menanyakan pendapat ku melalui wa atau dm. Seolah-olah aku ini adalah pengamat perceraian, atau orang terdekat dari kedua belah pihak. Jawaban ku hanya satu, itu urusan mereka.

Yang menggelitik ada yang mengatakan ke saya, seandainya mereka menunjuk aku jadi lawyernya jangan mau, karena perceraian itu dilarang sama Tuhan dan itu dosa. Saya hanya cukup menimpali dengan bercanda, “ya kalo fee nya cocok kenapa nggak” hahaha (maju tak gentar membela yang benar *asal bayar*)

Entah kenapa saya tidak habis pikir dengan orang-orang yang menanggapi kabar perceraian mereka secara berlebihan. Mengapa saya katakan berlebihan, karena mereka mengaitkannya dengan agama. Oke,, setahu saya mereka berdua pemeluk agama Kristen atau Katholik. Dalam doktrin agama Kristen, perceraian salah satu perbuatan yang dilarang. Tapi mari kita melihat bahwa dalam hal ini, kita memiliki kehidupan berbangsa dan bernegara, kita memiliki hukum nasional. Dalam UU No. 1 tahun 1974 tentang Perkawinan, perceraian itu adalah sesuatu yang diperbolehkan, dapat kita lihat dalam ketentuan Pasal 38 dan Pasal 39, yang selengkapnya dapat dilihat di bawah ini:

Pasal 38

Perkawinan dapat putus karena:

a. kematian;

b. perceraian; dan

c. atas keputusan pengadilan.

Pasal 39:

  1. Perceraian hanya dapat dilakukan di depan sidang pengadilan setelah pengadilan yang bersangkutan berusaha dan tidak berhasil mendamaikan kedua belah pihak.
  2. Untuk melakukan perceraian harus ada cukup alasan, bahwa antara suami dan isteri itu tidak akan dapat hidup rukun sebagai suami isteri.
  3. Tata cara perceraian di depan sidang pengadilan diatur dalam peraturan perundang-undangan tersendiri.”

 

Selanjutnya ketentuan Pasal 19 PP No. 9 tahun 1975 tentang Pelaksanaan UU No. 1 tahun 1974 tentang perkawinan, disebutkan:

“Perceraian dapat terjadi karena alasan atau alasan-alasan:

a. Salah satu pihak berbuat zina atau menjadi pemabok, pemadat, penjudi dan lain sebagainya yang sukar disembuhkan;

b. Salah satu pihak meninggalkan pihak lain selama 2 (dua) tahun berturut-turut tanpa izin pihak lain dan tanpa alasan yang sah atau karena hal lain di luar kemampuannya;

c. Salah satu pihak mendapat hukuman penjara 5 (lima) tahun atau hukuman yang lebih berat setelah perkawinan berlangsung;

d. Salah satu pihak melakukan kekejaman atau penganiayaan berat yang membahayakan pihak yang lain;

e. Salah satu pihak mendapat cacat badan atau penyakit dengan akibat tidak dapat menjalankan kewajibannya sebagai suami/isteri;

f. Antara suami dan isteri terus menerus terjadi perselisihan dan pertengkaran dan tidak ada harapan akan hidup rukun lagi dalam rumah tangga.”

 

Dari hal di atas, jelas hukum nasional kita mengakomodir terjadinya perceraian dengan ketentuan harus memenuhi syarat-syarat sebagaimana di atas. Di samping itu pula, sepanjang pengalaman saya sebagai lawyer, kasus perceraian itu selalu digelar dalam persidangan yang tertutup, artinya masalah perceraian bukanlah konsumsi publik, sehingga agak tidak etis jika orang-orang mencoba mencampuri urusan yang satu ini. Masalah dosa? Ayolah, dosa urusan masing-masing pribadi dengan Tuhannya, anda bukan tukang catat dosa.

Jujur saja, saya tidak menyukai perceraian. Namun sebisa mungkin saya tidak akan menghakimi mereka yang bercerai, karena alasan yang pertama bahwa saya tidak mengetahui kehidupan mereka dan apa yang telah terjadi di dalam hidup mereka. Alasan yang kedua, karena saya lawyer bukan hakim.

Jadi bagi kalian yang mencoba menghakimi perceraian Gading – Gisel, atau perceraian siapa pun, dengan alasan dilarang agama, anda terlalu naif.

The Stress Lawyer

Penulis adalah seorang lawyer muda di Jakarta, punya cita-cita menjadi seorang akademi dan terkadang tersesat dalam imajinasi sendiri.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *