MENIKMATI DAGING BUAYA DI THAILAND

Perjalanan kali ini, aku berkesempatan untuk traveling ke Thailand, meskipun hanya beberapa hari, tapi lumayanlah untuk merefresh otak yang selama berbulan-bulan disibukkan dengan pekerjaan yang tiada ujungnya.

Sebenarnya traveling kali ini tidak begitu banyak kesan, karena Thailand suasananya sama seperti di Indonesia. Kota Bangkok ya seperti Jakarta juga, semrawut dan macet. Jadi sebenarnya misi utama saya ke Thailand lebih ingin wisata kuliner daripada menikmati alamnya.

Sebagai omnivora, makanan yang paling ingin aku coba di Thailand adalah daging buaya. Ekstrime ya, tapi aku pengen coba. Walaupun dalam hati ada sedikit rasa geli-geli gimana gitu. Begitu tiba di Thailand, hal pertama yang aku tanyakan ke Guide nya adalah “dimana kita bisa mendapatkan daging buaya.” Spontan teman-teman ku langsung memandang jijik kea rah ku, dan daku pun merasa kotor…

Dari Bandara, kami langsung menuju tempat makan. Karena rombongan ku mayoritas muslim, jadi kami makan di restoran yang menyediakan halal food. Enak juga, walaupun makanannya sama kayak Indonesia. Tapi yang paling the best di restoran ini adalah mango sticky rice nya. Sumpah, saya sampai nambah 3 kali. Untung all you can eat.

Akhirnya saya baru mendapat kesempatan menikmati daging buaya pada malam terakhir di Thailand, itu pun di Bangkok tepatnya di Asiatique. Sebenarnya di tempat-tempat yang aku kunjungi ada aja yang menjual satu buaya, tapi tidak ada buaya utuhnya, saya curiga, dan lagian jadi tidak bisa berfoto dengan buaya gulingnya.

Begitu tiba di parkiran, di pojokan terdapat semacam café kecil, saya melihat seekor buaya yang telah dikuliti dan dipanggang di atas bara api. Finally, aku menemukannya. Aku bertiga dengan teman pemakan segalanya, memesan 2 porsi daging buaya panggang dan 3 botol beer dingin.

Si penjual menanyakan bagian mana yang kami inginkan. Ternyata bagian ekor buaya itu hanya terdiri dari lemak. Dari review yang pernah aku lihat di youtube tampaknya cukup menjijikkan, jadi kami putuskan untuk memakan bagian tubuhnya saja. Harga satu porsi daging buaya adalah 150 baht, jika dirupiahkan dengan kurs 1 baht = Rp. 360,- hanya sekitar Rp. 54.000,-.

Pada suapan pertama aku cukup kaget dengan rasanya. Di bayangan ku rasa daging buaya akan seperti daging ikan, ternyata rasanya mirip daging ayam namun versi lebih alot, aku tidak tahu apakah alot karena memang begitu atau karena Teknik memasaknya. Bagi yang pernah memakan daging biawak rasanya hampir sama. Tapi aku lebih suka daging buaya.

Daging buaya yang kami makan cukup enak ditambah dengan sambal khas Thailand yang rasanya pedas, asin dan sedikit kecut. Setelah makan ditutup dengan beer dingin, sungguh luar biasa. Menurut teman-teman ku yang lain, setelah memakan daging buaya tubuh menjadi sedikit panas, namun saya pribadi tidak merasakan apapun. Apa aku udah mati rasa ya.

 1,282 total views

The Stress Lawyer

Penulis adalah seorang lawyer muda di Jakarta, punya cita-cita menjadi seorang akademi dan terkadang tersesat dalam imajinasi sendiri.

Mungkin Anda juga menyukai

3 Respon

  1. Bara Anggara berkata:

    whoaaaa, baru tahu ada kuliner model begini dengan panggangan buaya utuh di depannya, langsung kumasukin ke itinerary ah, kebetulan ada rencana ke Thailand tahun depan, ahaha.. thanks infonya bung.. 😀

    -traveler paruh waktu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *