SAI PATOGU ROHA KI (TEGUHKAN HATI KU)

St. L. Hutabarat (alm)

Sai Patogu Roha ki

Buku Ende No. 508

Desember 2019. Merupakan pertemuan terakhir ku dengan bapak hingga akhir nya kami benar-benar berpisah. Tanggal 5 Maret 2020 hingga akhirnya Bapak takluk dengan penyakit nya.

Sebelumnya aku tidak ada rencana untuk pulang kampung natal-tahun baru 2019. Selain karena belum mendapatkan cuti di kantor yang baru, aku benar-benar tidak mempunyai alokasi dana untuk mudik. Semenjak aku mengajukan KPR 2 tahun silam, saya harus menjaga dengan ketat pengeluaran. Masalah tiket yang setahun terakhir menjadi dilema para perantau menjadi salah satu alasan ku.

Seperti umum nya orang tua, bapak akan menyakan apakah aku bisa pulang natal ini. Aku jawab tidak bisa. Biasanya saat aku menjawab seperti itu bapak hanya bilang, “toe ma amang molo memang dang boi unang paksa hon. Sae adong do tikki, sai hipas ma sude jala adong peningkatan di akka pansarian (baik lah amang kalau belum bisa jangan dipaksakan. Masih ada kesempatan lain, semoga semua nya sehat-sehat dan ada peningkatan rezeki).

Kali ini rasa nya berbeda. Bapak terlihat sangat berharap. Berulangkali bapak mengutarakan permintaan nya. Padahal juli 2019, Bapak baru berkunjung ke Depok. Untuk pertama kali nya Bapak datang sejak rumah itu aku beli. Aku teringat wajah Bapak saat turun dari taksi langsung memeluk ku dan berkata, “on do jabu mi amang, las roha ku bah. (Ini kah rumah mu itu amang, aku sungguh bahagia).”

Permintaan Bapak yang menurut ku agak berbeda itu membuat ku berpikir ulang. Aku menghubungi kakak ku yang di Cimahi, aku memintanya pulang, dan aku bilang aku akan usahakan pulang karena Bapak terus meminta. Karena malam sebelum nya aku bermimpi Bapak sedang sakit.

Tanggal 23 Desember 2019, klien kami meminta untuk mencabut banding yang kami ajukan di Pengadilan Negeri Dumai. Mereka meminta agar pencabutan sudah harus dilakukan paling lama tanggal 26 Desember 2019. Karena kondisi nya di Dumai Riau dan sedang hight season kami kehabisan tiket transit ke Dumai. Pilihannya hanya ke Pekanbaru dan ke Dumai lewat jalur darat. Itu pun tiket yang kami dapat tinggal bisnis. Tanggal 25 Desember 2019 aku harus berangkat. Dengan berat hati, bos ku meminta ku untuk melaksanakan tugas tersebut, dia mengatakan “itu kan sedang natal. Apa kamu tidak pulang kampung?” Aku jawab, “tidak apa-apa bu. Saya bisa ibadah Natal di kebaktian paling pagi habis itu saya berangkat ke bandara. Tapi saya boleh izin tanggal 2-3 Januari 2020 untuk pulang kampung.” Dia menjawab, “ok, take your time. Thanks for your effort.”

Akhirnya tanggal 26 Desember 2019 aku menyelesaikan pekerjaan aku di Dumai. Tanggal 27 Desember 2019 saya berangkat ke Medan dan teman saya melanjutkan pulang ke Jakarta transit di Medan. Dari Medan aku menempuh perjalanan hampir 11 jam ke Tarutung. Aku tidak memberitahukan kepulangan ku ke bapak dan mamak. Aku hanya memberi tahu kakak ku yang sudah tiba di Tarutung tanggal 26 Desember 2019.

Bapak dan mamak sudah bersiap akan tidur pas aku tiba. Mereka baru selesai memasak ikan mas arsik, karena besok nya anak namboru ku menikah. Ekspresi kekagetan dan kebahagiaan mereka begitu lepas. Walaupun aku melihat sesuatu yang lain dari diri Bapak. Dia jauh lebih kurus dibanding Juli 2019 yang lalu. Namun aku tidak peka. Seandainya saat itu aku membawa nya cek ke dokter tentu ceritanya akan berbeda. Itu lah salah satu penyesalan terbesar ku.

Aku di kampung dari tanggal 27 Desember 2019 sampai dengan 5 Januari 2020. Tanggal 31 Desember 2019, bapak sempat sesak dan pergi ke klinik. Lagi-lagi kebodohan ku membuat ku tidak peka.

Sudah 13 tahun aku merantau. Pulang dan kembali ke perantauan sudah biasa, namun kali ini rasanya sedikit berat untuk kembali ke Jakarta. Sebelum pulang, kami berdoa bersama. Bapak mengatakan “taon on ro nama muse bapa dohot omak tu Depok. (Tahun ini bapak sama mamak akan datang lagi ke Depok)”. Aku jawab, “ido attong, ikkon leleng do annon hamu di depok, unang songon na juli i holan 3 ari (iya dong, kalian harus lama tinggal di depok, jangan seperti juli yang lalu cuma 3 hari).” Dia memeluk ku. Dan ternyata itu pelukan terakhir kami.

Setelah pulang, dan masuk kerja, ada sebuah kebiasaan baru yang aku lakukan setiap pagi habis bangun tidur. Pagi sebelum mandi biasanya aku menyiapkan bekal ke kantor. Sambil beberes, Aku selalu memutar lagu “Sai Patogu” entah kenapa hasrat ku untuk mendengar lagu itu setiap pagi sangat besar.

27 Februari 2020, aku dalam perjalanan pulang dari Pekanbaru ke Jakarta karena sebelum nya ada sidang di Pengadilan Negeri Siak. Tiba-tiba aku ingin video call dengan Bapak. Saat aku telp, ternyata yang angkat adalah mamak. Mamak mengatakan kalau bapak lagi ke medan dengan abang yang nomor 2 untuk cek up. Aku tanya sakit apa, mamak hanya bilang sesak.

Akhirnya aku telp abang, dia bilang mereka mau cek up ke RS Adam Malik. Aku tanya apa penyakitnya, awalnya abang ku tidak mau memberitahu, tapi setelah dipaksa dia mengatakan berdasarkan diagnosa dokter dari RS Tarutung kemungkinan cancer paru-paru tapi bisa juga TBC karena gejalanya sama. Aku bilang ke abang, boleh aku ngomong dengan bapak, dia bilang bapak lagi tidur. Terus abang ku bilang, kalau mau tanya apa pun tanya aku saja jangan telp ke mamak. Dia tidak mengizinkan aku ngomong dengan bapak karena katanya dia khawatir bapak jadi sedih. Memang bapak dari dulu tidak pernah memberitahu kami kalau sakit. Bapak pernah 2 kali opname dan aku tidak diberitahu, alasannya bapak tidak ingin kami khawatir.

Selama seminggu aku selalu komunikasi dengan abang ku tentang kondisi bapak. Tanggal 4 Maret 2020 dari Pekanbaru aku telp abang ku untuk tanya kondisi bapak, dia bilang bapak udah tidak mau melanjutkan berobat dan minta untuk pulang ke tarutung. Aku ngotot untuk bicara dengan bapak tapi tidak diizinkan. Malamnya akhirnya mereka pulang ke Tarutung. Tanggal 5 Maret 2020 habis sidang di Siak aku kembali telp, dan abang bilang bapak udah di tarutung tapi di rawat di rumah sakit. Aku minta untuk bicara, kata abang ku bapak sudah tidak sadar. Sudah tidak bisa berbicara. Akhirnya aku bilang, Sabtu aku akan pulang ke Tarutung.

Kami tidak jadi pulang ke Jakarta karena kehabisan tiket. Akhirnya harus nginap di Pekanbaru. Sambil menyelesaikan pekerjaan pikiran ku selalu ke bapak, aku punya firasat bahwa Bapak akan segera pergi. Junior ku bertanya, “abang sepertinya sedang banyak pikiran”. Aku bilang, “iya Cen, bapak ku lagi sakit.”

Jam 9 malam abang ku menelepon dan mengabarkan bapak sudah tidak ada. Aku tidak bisa menangis, badan ku bergetar hebat. Junior ku bertanya, “kenapa bang?” Aku menjawab lirih, “Bapak ku meninggal”. Abang ku meminta agar aku menelepon kakak ku yang di Cimahi, tapi aku tidak kuat. Aku tahu dia sangat dekat dengan bapak, aku tidak akan mampu kalau dia sampai shock.

Akhirnya aku mencoba untuk mereschedule semua tiket agar bisa pulang ke Tarutung besok nya. Aku minta teman ku di komplek untuk ambil pakaian di rumah dan mengantarkan ke bandara.

Sepanjang perjalanan pulang aku hanya termenung. Sesekali aku menangis dalam diam. Aku memutar lagu “Sai Patogu” berulang-ulang. Aku butuh kekuatan.

Akhirnya kami tiba di rumah. Bapak sudah terbujur kaku. Dia terlihat tampan dengan rambut nya yang beruban dipotong rapih. Dia menggunakan jas dan dasi yang aku berikan waktu pernikahan abang ku. Dia terlihat damai seperti orang yang sedang tertidur. Bapak Sudah Pulang.

Tiba-tiba aku ingin sekali dipeluk Bapak. Hal yang sangat jarang kami lakukan. Kami tidak terbiasa menunjukkan rasa sayang kami dengan pelukan. Walaupun di tahun-tahun terakhir Bapak mulai sering memeluk ku. Pelukan tanggal 5 Januari 2020 itu menjadi pelukan kami yang terakhir.

Setelah semua acara adat, jenazah bapak di bawa ke Gereja, karena bapak adalah Penatua Aktif. Lonceng gereja mengiringi peti bapak ke depan Altar. Di tahun mendatang aku tidak akan pernah lagi melihat bapak berdiri di Altar itu dengan jubah coklatnya. Aku kembali menangis dalam diam.

Sekarang aku menyanyikan lagu ini sebagai peringatan akan bapak yang sudah pulang ke rumah Bapa di Surga 3 minggu yang lalu. Dan sebagai pengharapan melewati masa berkabung dan masa kesesakan di tengah wabah Covid-19 ini. Andai Bapak masih ada, aku yakin Bapak akan sangat khawatir dan akan sering-sering menelepon. Aku sangat merindukan telp dari Bapak.

Sai Patogu Roha Ki Ale Jesus Tuhan Ki
Golom dohot tangan ki molo marsitaonon au.
(Teguhkan hati ku ya Yesus Tuhan ku. Genggam tangan ku saat dalam kesesakan)

 173 total views

The Stress Lawyer

Penulis adalah seorang lawyer muda di Jakarta, punya cita-cita menjadi seorang akademi dan terkadang tersesat dalam imajinasi sendiri.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *